JAKARTA(LB) — Dari sup pedas hingga mi instan hangat, hidangan berkuah sudah lama menjadi bagian penting budaya makan masyarakat Korea. Namun para ahli kesehatan kini mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut, terutama saat menambahkan nasi ke dalam sisa kuah, dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius seperti kanker lambung, tekanan darah tinggi, hingga lonjakan gula darah.
Korea dan Jepang adalah dua negara yang dikenal dengan konsumsi sup tinggi. Kedua negara ini tercatat memiliki angka kanker lambung yang relatif tinggi. Kandungan natrium yang berlebihan dalam kuah disebut sebagai salah satu penyebab utama. Garam yang terlalu tinggi dapat merusak lapisan lambung dan berkontribusi pada hipertensi.
Dikutip dari Korea Times, pada Senin (6/10), sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition, Health and Aging menemukan bahwa orang yang mengonsumsi kuah mi instan lebih dari tiga kali seminggu memiliki risiko kematian lebih tinggi akibat kanker lambung dan penyakit terkait.
Sementara, penelitian oleh Universitas Yamagata di Jepang terhadap 6.725 orang dewasa berusia di atas 40 tahun menunjukkan, peserta yang menghabiskan lebih dari setengah kuah mi memiliki risiko kematian 1,5 kali lebih besar. Para peneliti menyarankan masyarakat membatasi konsumsi kuah dan menyeimbangkan pola makan dengan sayuran untuk menekan asupan natrium.
Meskipun jumlah kasus kanker lambung di Jepang lebih tinggi, Korea tetap melaporkan sekitar 30 ribu kasus baru setiap tahun (29.487 kasus pada 2022). Walau kini kanker lambung telah turun dari peringkat pertama menjadi kelima jenis kanker paling umum di Korea, para ahli menilai pola makan tinggi sup dan kuah asin (termasuk mi pedas dan sup pasta kedelai) masih berperan besar.
Meskipun jumlah kasus kanker lambung di Jepang lebih tinggi, Korea tetap melaporkan sekitar 30 ribu kasus baru setiap tahun (29.487 kasus pada 2022).
Walau kini kanker lambung telah turun dari peringkat pertama menjadi kelima jenis kanker paling umum di Korea, para ahli menilai pola makan tinggi sup dan kuah asin (termasuk mi pedas dan sup pasta kedelai) masih berperan besar.
Kebiasaan mencampur nasi ke dalam sisa kuah mi instan mungkin terasa nikmat dan tidak terbuang, tetapi bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
Kombinasi ini membuat asupan karbohidrat berlebih dan menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat. Mi instan dan nasi putih sama-sama mengandung karbohidrat olahan dengan indeks glikemik tinggi sehingga mudah dicerna dan memicu kenaikan kadar glukosa.
Ahli gizi menyarankan agar masyarakat memilih salah satu saja mi atau nasi bukan keduanya sekaligus. Menambahkan sayuran berserat dapat membantu memperlambat pencernaan dan menstabilkan kadar gula darah.
Masalah serupa juga ditemukan pada kebiasaan menambahkan nasi ke dalam sup tradisional seperti doenjang jjigae (sup pasta kedelai) atau kongnamul guk (sup kecambah). Kuah asin tidak hanya mempercepat pencernaan dan lonjakan gula, tetapi juga dapat menurunkan selera makan terhadap lauk bergizi seperti sayuran.
Untuk menjaga kestabilan gula darah, para ahli merekomendasikan waktu makan setidaknya 20 menit dan urutan konsumsi tertentu mulai dari sayuran, lalu protein seperti telur atau daging, dan terakhir karbohidrat seperti nasi atau mi. Cara ini terbukti membantu memperlambat penyerapan glukosa.
Meski tradisi menikmati nasi dengan sup sudah mengakar dalam budaya Korea, para pakar menegaskan pentingnya moderasi. Perubahan kecil dalam kebiasaan makan diyakini bisa membawa dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.
