Arca Terbesar di Kabupaten Semarang Jadi Sasaran Vandalisme, Diduga Terkait Prosesi Ritual

Arca Ganesha Besar menjadi sasaran aksi vandalisme dengan disiram cairan kapur putih.

UNGARAN (LB)- Arca Ganesha Besar yang terletak di lingkungan Sikunir, Kelurahan Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, menjadi sasaran tangan usil. Diduga, tindakan vandalisme tersebut dilakukan dalam konteks prosesi ritual.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Semarang, Tri Subekso, mengungkapkan bahwa arca Ganesha terbesar di Kabupaten Semarang itu disiram dengan injet, yaitu cairan kapur putih. “Cairan mengenai bagian wajah dan badan arca. Di dekat arca ditemukan botol berisi cairan, diduga untuk mencampur injetnya itu,” ujarnya pada Rabu (16/4).

Subekso menjelaskan bahwa dugaan penyiraman injet untuk ritual tersebut muncul karena di sekitar arca sering dilakukan prosesi ngalab berkah. “Bahkan di lingkungan sekitar, arca ini disakralkan dan sangat dijaga keberadaannya. Karena itu, warga sangat marah dengan kejadian ini,” ungkapnya. “Informasi yang beredar itu dari cat, tapi setelah dilakukan tinjauan itu berbahan dari kapur putih,” imbuhnya.

Untuk langkah penanganan, pihaknya masih menunggu rekomendasi dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X. Area sekitar imbuhnya, sementara masih dipasang garis pembatas.

Subekso menegaskan bahwa tidak ada larangan untuk melakukan ritual di area tersebut. Bahkan, di lokasi yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya pada tahun 2022, ditemukan batuan candi yang diprediksi menjadi bagian dari tempat ritual.

“Soal melakukan ritual itu kan hak personal. Yang menjadi masalah adalah jika kegiatan tersebut berpotensi merusak obyek atau arca, bahkan melakukan intervensi seperti itu,” paparnya.

“Kami telah melakukan tinjauan bersama BPK Wilayah X, termasuk dengan Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Harapannya, kejadian ini tidak terulang dan semua masyarakat menjaga cagar budaya yang ada,” tambahnya. Persoalannya, lanjut Subekso, bukan hanya soal membersihkan arca dari perbuatan tangan-tangan usil, tetapi yang lebih penting adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga arca sebagai warisan budaya. “Katakan itu bukan cat tapi dari injet. Mungkin dengan hujan deras akan hilang dan terkikis. Poinnya adalah menjaga dan melestarikan arca. Meskipun ada dugaan motif dari pelaku adalah bagian dari ritual, tetap saja tidak dibenarkan,” tutupnya. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *