Ilustrasi: Petugas pemadan berusaha memadamkan api yang membakar lahan di kawasan KBB. Dalam kurun satu minggu sudah 3 kali terjadi kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) di puncak musim kemarau ini.
BANDUNG BARAT (LB)- Memasuki puncak musim kemarau, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai menghadapi ancaman serius kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kian nyata.
Tercatat dalam kurun waktu satu minggu terakhir, telah terjadi tiga peristiwa kebakaran lahan yang menjadi sinyal peringatan dini meningkatnya risiko bencana kebakaran.
Kondisi tersebut berpotensi meluas ke berbagai titik di wilayah tersebut seiring dengan semakin keringnya kondisi lingkungan dan berkurangnya kelembapan tanah.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan KBB, Siti Aminah Anshoriah mengakui adanya tren peningkatan insiden kebakaran yang dipicu secara alami oleh cuaca yang sangat kering dan panas.
“Salah satu peristiwa terbaru terjadi hari Selasa (30/6) lalu, di sebuah kebun milik warga Kampung Nantug RT01/07, Desa Baranangsiang, Kecamatan Cipongkor,” kata Siti, Jumat (3/7).
Dalam peristiwa tersebut, jelas Siti, api berhasil menghanguskan lahan seluas 1.000 meter persegi dari total area yang terdampak mencapai 1.500 meter persegi, di mana vegetasi yang terbakar didominasi oleh ilalang, rumput liar, serta dedaunan yang telah sangat kering sehingga memudahkan api membesar dengan cepat.
“Luas areanya sekitar 1.500 meter persegi dan yang terbakar 1.000 meter persegi. Yang terbakar itu ilalang dan daun yang sudah kering,” ungkapnya.
Kendati penyebab pasti dari kebakaran terakhir tersebut masih dalam tahap penyelidikan, jelas Siti, data yang dicatat oleh dinas terkait menunjukkan sebagian besar kasus karhutla yang terjadi saat musim kemarau sebenarnya bersumber dari kelalaian manusia.
“Kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan atau melakukan pembakaran sampah namun tidak dijaga hingga benar-benar padam. Ditambah dengan tiupan angin yang cukup kencang, menjadi pemicu utama yang mempercepat penyebaran api ke area yang lebih luas dan sulit dikendalikan,” ujarnya.
Siti mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati dalam setiap aktivitas di luar ruangan. “Api tidak mengenal batas wilayah dan kelalaian sekecil apa pun dapat berakibat fatal serta merugikan banyak pihak di tengah kondisi lingkungan yang sangat rentan terhadap kebakaran saat ini,” tandasnya. *
