Peringati Waisak 2570 BE/2026, Wanita Permabudhi Gelar Seminar dan Praktik Biopori Bertajuk Satu Aksi, Satu Hati, Satu Bumi

Ritha Helena menjelaskan tentang penerapan biopori.

JAKARTA (LB)—Memperingati Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE/2026, Lembaga Wanita Permabudhi (Persatuan Umat Buddha Indonesia) menyelenggarakan Seminar dan Praktik Biopori sebagai bagian dari Bulan Eco-Dhamma Nasional dengan tema Satu Aksi, Satu Hati, Satu Bumi.

Kegiatan dilangsungkan pada Sabtu (9/5/2026) di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Jakarta dan disiarkan langsung melalui channel youtube.

Dr. Triroso, S.Ag.

          Hadir langsung dikegiatan tersebut, Sekretaris Ditjen Bimas Buddha Kemenag Dr. Triroso, S.Ag., Ketua Umum Permabudhi Prof. Dr. Philip K. Widjaja, Ketua Umum Lembaga Wanita Permabudhi Ritha Helena, Romo Uniko Husein, Iwan Kurnia beserta jajaran.

          Dalam kata sambutannya, Ketua Umum Lembaga Wanita Permabudhi Ritha Helena mengatakan, Seminar dan Praktik Biopori ini diadakan sesuai dengan program Permabudhi di bulan Mei 2026 dalam mengimplementasikan Bulan Eco-Dhamma Nasional sebagai bagian dari perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 B.E. Gerakan ini berfokus pada harmonisasi ajaran Buddha dengan pelestarian lingkungan.

Prof. Philip K. Widjaja.

Lebih lanjut Ritha Helena mengatakan, kegiatan yang mengusung tema satu aksi, satu hati, satu bumi ini menjadi langkah untuk bersama-sama menggencarkan penerapan biopori yang merupakan metode konservasi air dan pengelolaan sampah organik yang efektif, sederhana, dan ramah lingkungan.

“Kita mulai langkah awal baru ini dengan biopori yang memang terlihat lubang kecil, tapi kalau diterapkan bersama-sama oleh kita semua, maka hasilnya akan luar biasa untuk menjaga bumi Indonesia dari kerusakan lingkungan. Seperti dalam ajaran Buddha, manusia dan lingkungan dipandang memiliki hubungan saling ketergantungan yang tidak terpisahkan,” ujarnya.

Ritha Helena.

Ritha mengajak semua masyarakat seluruh Indonesia untuk mulai bergerak kepada pelestarian lingkungan, membuat tanah lebih sehat.

“Ini sangat penting, kita bergerak, hati kita penuh cintah kasih kepada satu bumi. Bumi ini sehat hidup kita jadi nyaman,” tegasnya.

Sementara itu Ketua Umum Permabudhi Prof. Dr. Philip K. Widjaja pada kesempatan ini mengingkatkan bahwa  penerapan biopori harus memperhatikan keberlanjutannya agar manfaatnya dalam menjaga lingkungan, seperti mencegah banjir dan mengolah sampah organik tetap maksimal dalam jangka panjang.

Keberlanjutan biopori bergantung pada pemeliharaan rutin, partisipasi aktif masyarakat, dan pengelolaan yang benar.

Dr. Triroso, S.Ag., Prof. Philip K. Widjaja, Ritha Helena, Juliana Ojong dan tamu kehormatan lainnya.

Menurutnya, praktik biopori ini bukan sesuatu yang baru, namun sudah cukup lama ditemukan. Hanya saja biopori ini belum secara besar-besar diaplikasikan di dunia ini.

“Beberapa program biopori sudah dicanangkan, namun kita belum tahu kelanjutannya biopori masih berfungsi atau tidak. Jadi kita melaksanakan program ini perju juga perhatikan tindak lanjut dan kesinambungan biopori tersebut,” ujarnya.

Prof. Philip K. Widjaja kemudian mengungkapkan bahwa Bulan Eco-Dhamma merupakan bentuk kepedulian Permabudhi terhadap isu lingkungan.

“Jadi Permabudi telah terjun ke sangat banyak item lingkungan sebagai bentuk nyata kita mencintai bumi ini. jadi kita sudah melakukan banyak hal yang selaras dengan SDGs (Sustainable Development Goals) yang dicanangkan PBB dengan 17 agenda global. Kita telah bekerja sama dengan Bappenas untuk  melaksanakan agenda yang ada, termasuk isu lingkungan, isu sampah, isu kesehatan anak dan wanita,” urainya.

 Prof. Philip lebih lanjut menerangkan bahwa Eco-Dhamma itu mengingatkan semua bahwa memperhatikan ekologi itu bagian dari dhamma itu sendiri.

Dia mengungkapkan rasa senangnya program Eco-Dhamma tersebut sudah diluncurkan oleh Wamen LH (Wakil Menteri Lingkungan Hidup) Diaz Hendropriyono pada rangkaian Mukernas IV Permabudhi di Makassar.

Prof. Philip berharap semangat menjaga lingkungan harus tetap dipelihara. “Kita butuh semangat ini untuk berbuat sesuatu. Jadi kita dalam beragama, bukan terima ajaran terima ajaran agama, terus pulang dan tidur, tapi bagaimana kita merubah ajaran ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia dan menjaga bumi ini yang lebih baik dan membuat esok hari yang lebih cerah,” ujarnya.

Sekretaris Ditjen Bimas Buddha Kemenag Dr. Triroso, S.Ag. menyatakan Permabudhi yang mencanangkan program Eco-Dhamma itu sesuai dengan ajaran Buddha yang sudah mengajarkan kepada umatnya tentang pelestarian lingkungan.

Foto bersama para peserta seminar.

“Di dalam agama Buddha sangat konsen terkait dengan kehidupan manusia dan lingkungan, hubungannya saling mempengaruhi,” ujarnya.

Di kesempatan tersebut Dr. Triroso menyampaikan apresiasi kepada Ketua Umum Lembaga Wanita Permabudhi Ritha Helena yang telah menggagas kegiatan seminar dan praktik biopori ini.

Dia katakana kegiatan ini selaras dengan tema Waisak Tahun 2026 yaitu Menjaga Perdamaian Dunia.

“Kalau kehidupan lingkungan kita baik dan asri tentu tidak kekurangan sumber energi, sehingga tidak ada yang namanya perebutan sumber energi dan kehidupan kita akan damai,” jelasnya.

Pada sesi seminar dan praktik biopori ini menghadirkan narasumber salah satu aktivis lingkungan yaitu Juliana Ojong. Dia memaparkan atau sharing pengalamannya dalam aktivitas lingkungan. Dia menekankan kepada pentingnya biopori dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *