Untuk Kurangi Beban TPA, DLH Kota Bandung Dorong Warga Kelola Sampah Mandiri

Ilustrasi sampah.


BANDUNG (LB)- Kesadaran warga dalam mengelola sampah dari rumah, dinilai menjadi kunci utama keberhasilan pengurangan beban sampah di Kota Bandung.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, terus menekankan perubahan perilaku masyarakat harus menjadi fondasi utama dalam sistem pengelolaan sampah berbasis lingkungan.

Melalui program Gaslah, DLH menggerakkan petugas pemilah dan pengolah sampah di tingkat masyarakat memperkuat pengelolaan dari sumbernya. Program itu, ditargetkan mampu mengolah sekitar 2,5 kilogram sampah per orang setiap hari yang jika diakumulasikan mencapai puluhan ton per hari.

Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Bandung, Salman Faruq menyebut, kinerja para petugas Gaslah sejauh ini menunjukkan hasil yang positif dan bahkan melampaui target yang ditentukan.

“Secara capaian, tim Gaslah mampu bekerja di atas ekspektasi yang ditetapkan dan seluruh progresnya bisa kami pantau langsung melalui sistem pemantauan digital,” kata Salman Faruq, Selasa (5/5).

Namun demikian, meski pengumpulan sampah organik berjalan cukup baik. Tantangan masih ditemukan pada tahap pengolahan lanjutan. Beberapa fasilitas seperti komposter, rumah maggot hingga tempat pengolahan di tingkat wilayah perlu kembali diaktifkan secara optimal agar tidak terjadi penumpukan.

Pihaknya juga terus mendorong penguatan peran masyarakat di tingkat kelurahan dan komunitas dalam mengelola sampah secara mandiri. Perubahan kebiasaan warga, menjadi faktor paling menentukan dalam menekan volume sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir.

“Yang paling penting saat ini adalah bagaimana masyarakat bisa mengubah pola kelola sampah sejak dari rumah. Bukan hanya soal pengangkutan, tapi bagaimana sampah itu sudah dipilah dan diolah dari awal,” ucapnya.

Dengan penguatan peran warga dan optimalisasi fasilitas pengolahan di lingkungan ditambahkan Salman, ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA) dapat terus berkurang dan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dapat terwujud. “Pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pengangkutan. Harus dimulai dari lingkungan masing-masing. Dan apabila terjadi kelebihan kapasitas, kita sudah siapkan skema aktivasi lokasi pengolahan tambahan termasuk di eks TPA Jelekong untuk dijadikan kompos,” ujar dia. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *