Menko Perekonomian Airlangga Hartarto ketika memberikan keynote speech pada acara Bisnis Indonesia Economic Insights 2026 yang bertema “Navigating the Era of Unprecendented Uncertainty”, di Jakarta. (Foto: Kemenko Perekonomian).
JAKARTA – Roda perekonomian nasional bergerak sangat dinamis hingga semester I-2026 ini. Perekonomian Indonesia tumbuh 5,61% (yoy) pada triwulan I-2026, melampaui sebagian besar negara anggota G20 lainnya.
Pertumbuhan itu bersifat merata (broad-based) di berbagai sektor, ditopang kuatnya konsumsi Pemerintah, tetap tangguhnya permintaan rumah tangga, serta berlanjutnya aktivitas investasi, yang menegaskan ketahanan perekonomian nasional menghadapi berbagai tekanan global.
Fondasi makroekonomi Indonesia tetap kokoh, dengan tingkat inflasi terkendali di angka 3,08%, cadangan devisa kuat sejumlah USD144,9 miliar, realisasi investasi menembus Rp498,8 triliun, PMI manufaktur kembali ekspansif di borderline 50,0, penyaluran kredit tumbuh positif di 11,51%, serta neraca perdagangan surplus 72 bulan berturut-turut.
“Seluruh indikator ini menegaskan bahwa perekonomian Indonesia berdiri di atas fondasi yang sehat, resilien, dan siap melanjutkan momentum pertumbuhan. Namun, kita tetap harus menggenjot sektor-sektor yang menghasilkan devisa, misalnya sektor pariwisata,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ketika memberikan keynote speech pada acara Bisnis Indonesia Economic Insights 2026 yang bertema “Navigating the Era of Unprecendented Uncertainty”, di Jakarta, Rabu (24/6).
Pertumbuhan ekonomi juga tetap terjaga di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa wilayah luar Jawa bahkan tumbuh di atas rata-rata nasional sebesar 5,61% (yoy), seperti Sulawesi (6,95%) dan Bali-Nusa Tenggara (7,93%). Secara garis besar, industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan di sebagian besar wilayah, menunjukkan proses transformasi ekonomi yang semakin merata di berbagai daerah.
“Kita lihat bahwa hilirisasi minerba yang seluruhnya masuk di Kawasan Industri (KI) ataupun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Bahkan di berbagai kawasan ini nilai ICOR-nya 3, jadi di bawah rata-rata ICOR yang 6. Jadi, itu relatif cukup baik,” jelas Airlangga.
Meskipun nilai Rupiah sempat tertekan hingga Rp18.171 per USD, dan IHSG terkoreksi ke level 5.594 pada Mei-Juni 2026, akibat tekanan kebutuhan dolar dan sentimen negatif global, Pemerintah bersama dengan otoritas terkait telah mengambil langkah cepat dan terukur yakni dengan menaikkan BI Rate ke 5,75%, melakukan intervensi pasar, serta memperkuat kredibilitas fiskal.
Hal ini mendorong nilai Rupiah kini kembali menguat di kisaran Rp17.794 per USD dan IHSG pulih ke 6.177. Sementara itu, dalam MSCI 2026 Market Classification Review yang diumumkan kemarin, Indonesia tetap berada pada kategori Emerging Market. Ini menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional dan aksesibilitas pasar Indonesia tetap kuat dan dipercaya investor global.
Pemerintah juga menghadirkan serangkaian insentif nyata bagi masyarakat dan dunia usaha melalui Paket Stimulus Semester II-2026. Mulai dari pilar pertama terkait insentif untuk konsumsi dan industri yang terdiri tarif PPh final royalti 1,5% bagi penulis nasional, diskon 30% tiket kereta api dan kapal Pelni, gratis tarif jasa kepelabuhanan ASDP, serta PPN DTP 100% tiket pesawat domestik kelas ekonomi untuk periode libur sekolah maupun Nataru, hingga Bea Masuk 0% atas impor LPG, bahan baku plastik, dan suku cadang pesawat udara.
Melengkapi pilar pertama, Pemerintah juga menghadirkan pilar kedua berupa Program Magang Nasional Tahap II yang akan dibuka mulai Juli 2026 dengan anggaran Rp4,14 triliun untuk 150 ribu lulusan baru perguruan tinggi. Dan juga, mengadakan pelatihan vokasi bagi 220 ribu lulusan SMK, dan perlindungan 50 ribu pekerja terdampak PHK dengan anggaran Rp2,12 triliun.
Adapun pilar ketiga berupa jaring pengaman sosial melalui bantuan beras 10 kg kepada 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) selama tiga bulan, mulai Juli hingga Agustus 2026, senilai Rp17,54 triliun. Dilakukan juga stabilisasi harga kedelai di pengrajin tahu/tempe dengan subsidi selisih harga hingga Rp2.000/kg, untuk kuota 250 ribu ton, guna menjaga keterjangkauan pangan masyarakat.***
