Tumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Rawadas, Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, yang mengganggu akses jalan warga menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Malaka 1, Selasa (31/3).
JAKARTA (LB)- Warga mengeluhkan bau menyengat dan akses jalan yang becek menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Malaka 1 akibat tumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Rawadas di kawasan Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (31/3).
Seorang warga, Sahrul (49), mengatakan kondisi TPS Rawadas semakin tidak nyaman pascalibur Lebaran, terlebih saat aktivitas masyarakat meningkat, termasuk tradisi ziarah kubur.
“Emang biasanya ke makam, abis Lebaran kan juga ke sini biasanya. Bau menyengat, tidak nyaman lah pasti. Semoga diperluas jalanannya, kelihatan jalanannya, bisa parkir, dibersihin, jadi nyaman juga,” kata Sahrul di TPS Rawadas, Jakarta Timur, Selasa (31/3).
Dia menyebutkan kondisi jalan di sekitar TPS tersebut turut terdampak karena tertutup sampah yang menumpuk.
Selain mengganggu pemandangan, aroma tak sedap juga semakin terasa menyengat, terutama saat cuaca panas.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Fivi (38), yang mengaku kesulitan melintasi area tersebut karena kondisi jalan yang becek dan tercampur sampah.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat akses menuju TPU menjadi terganggu dan tidak layak dilalui.
“Jalanannya becek, jadi bau juga. Tanahnya tercampur sampah, jadi tidak bagus diinjak. Terganggu ke TPU, susah, aromanya, ya, ampun,” ungkap Fivi.
Dia pun berharap pemerintah dapat mempercepat proses pengangkutan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang agar tumpukan sampah di TPS Rawadas semakin berkurang.
Selain itu, dia juga mendorong adanya solusi jangka panjang, salah satunya relokasi TPS ke lokasi yang lebih memadai.
“Harapannya, ya, pembuangan di Bantargebang bisa dipercepat agar dirapihin juga, jadi cepat selesai. Cari lahan juga buat pindah TPS, jadi pejalan kaki nyaman jalannya,” ujar Fivi.
Kondisi sampah di TPS Rawadas yang kerap menumpuk itu, kata dia, tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan warga sekitar.
Ketua RW 02 Pondok Kopi, Ninu Hadi Purwanto di Jakarta, Selasa, menyebutkan penumpukan sampah terjadi karena aktivitas pengangkutan terhenti sementara. Petugas kebersihan terpaksa menumpuk sampah di TPS agar pelayanan kepada warga tetap berjalan.
Kendala utama terjadi di TPST Bantargebang. Sejumlah truk yang sudah terisi sampah tidak bisa langsung melakukan pembuangan, sehingga harus kembali ke dinas lingkungan hidup tanpa mengosongkan muatan. Akibat kondisi tersebut, volume sampah di TPS Rawadas terus meningkat. Ketinggian sampah di bagian dalam TPS mencapai tiga hingga empat meter, sementara di area pinggir jalan mencapai sekitar dua meter. *
