Gubernur BI Perry Warjiyo.
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi berlanjut pada triwulan I 2026 yang ditopang oleh meningkatnya konsumsi terutama dengan adanya stimulus dari pemerintah hingga longgarnya kebijakan moneter.
Sebagaimana diketahui, periode tiga bulan pertama tahun ini bertepatan dengan berbagai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang dapat mendorong peningkatan kegiatan ekonomi seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi dan Idul Fitri 1447 H.
“Kami melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I masih akan tetap tinggi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Kamis (19/2).
Perry menyampaikan investasi juga diprakirakan tumbuh lebih tinggi didorong oleh investasi Pemerintah, termasuk hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA), serta perbaikan keyakinan pelaku usaha yang masih berlanjut.
Di samping program yang mendorong sektor riil dan hilirisasi, ia juga meyakini program-program pemerintah untuk kesejahteraan dan pembangunan manusia seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan lainnya turut mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Kami berkoordinasi dan bersinergi erat dengan pemerintah. Sebagaimana diketahui, kami bersinergi dengan Pak Menteri Keuangan, sama-sama bagaimana memastikan likuiditas itu ada di pasar keuangan dan perbankan, bagaimana mendorong di sektor riil baik melalui stimulus fiskal maupun dari kami (moneter) berbagai insentif likuiditas maupun dukungan likuiditas, serta sama-sama bagaimana menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry.
Adapun pada triwulan IV 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,39 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 5,04 persen (yoy).
Peningkatan ini terutama ditopang oleh permintaan domestik dari konsumsi rumah tangga dan investasi sejalan dengan dampak positif berbagai stimulus kebijakan Pemerintah dan bauran kebijakan BI.
Dengan perkembangan ini, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun 2025 sebesar 5,11 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2024 sebesar 5,03 persen (yoy) dan diikuti dengan perbaikan kualitas ketenagakerjaan.
Dari lanskap global, Perry menyampaikan bahwa prospek perekonomian global dalam tren melambat dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi.
Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diprakirakan melambat dari 3,3 persen pada 2025 menjadi 3,2 persen dan dibarengi dengan divergensi pertumbuhan antarnegara.
RDG BI Februari 2026 yang berlangsung pada Rabu (18/2) dan Kamis (19/2) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 4,75 persen.
Suku bunga deposit facility diputuskan untuk tetap pada level 3,75 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk tetap pada level 5,50 persen.
“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini yaitu pada penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.***
