Xabi Alonso dipecat dan Alvaro Arbeloa siap emban tugas berat.
MADRID – Real Madrid telah memecat Xabi Alonso. Kekalahan di final Piala Super Spanyol dari Barcelona tampak menjadi puncak kesabaran manajemen terhadap pelatih 44 tahun tersebut.
Alonso baru ditunjuk menangani Madrid pada musim panas lalu untuk menggantikan Carlo Ancelotti yang menerima tawaran Timnas Brasil. Awalnya pria asal Basque itu terlihat menjanjikan.
Madrid meraih 13 kemenangan dari 14 laga awal musim ini, termasuk mengalahkan Barcelona 2-1. Mereka duduk nyaman di puncak klasemen LaLiga serta berada di papan atas fase grup Liga Champions. Namun periode setelahnya berubah drastis.
Kylian Mbappe dan kolega hanya memenangkan tiga laga dalam sembilan laga di seluruh ajang, termasuk menelan kekalahan dari Celta Vigo dan Manchester City di kandang sendiri. Posisi puncak LaLiga pun direbut Barcelona.
The Athletic menyebut manajemen Madrid sebetulnya ingin mempertahankan Alonso. Mereka juga sadar tak bisa menumpahkan segala kesalahan kepadanya. Namun hasil di lapangan juga tak membuat mereka puas.
Selain itu, faktor ketidakharmonisan ruang ganti juga menjadi sorotan. Sejumlah pemain tak senang dengan gaya kepemimpinan Alonso. Tak cuma Vinicius Junior, namun ada juga sejumlah pemain lain, seperti Jude Bellingham dan Federico Valverde.
Puncaknya adalah kekalahan 2-3 dari Barca di Jeddah pada Minggu, 11 Januari lalu. Tak sampai 24 jam usai laga itu, Madrid mengumumkan perpisahan dengan Alonso.
“Real Madrid C. F. mengumumkan bahwa, dengan kesepakatan bersama antara klub dan Xabi Alonso, memutuskan untuk mengakhiri masa jabatannya sebagai pelatih tim utama. Xabi Alonso akan selalu mendapatkan kasih sayang dan penghargaan dari seluruh Madridismo karena ia adalah legenda Real Madrid dan selalu mewakili nilai-nilai klub kami. Real Madrid akan selalu menjadi rumahnya. Klub kami mengucapkan terima kasih kepada Xabi Alonso dan seluruh tim teknisnya,” tulis situs resmi Madrid.
Sebenarnya sentuhan Alonso tak buruk-buruk amat. Ia meraih 24 kemenangan dari 34 laga yang ia pimpin (70,59 persen). Angka tersebut hanya kalah dari Ancelotti, Jose Mourinho dan Manuel Pellegrini dalam dua dekade terakhir.
Konon hanya ada tiga pemain Real Madrid yang mendukung Alonso, sebelum sang pelatih didepak. Ketiga pemain senior itu adalah Thibaut Courtois, Rodrygo dan Jude Bellingham. Mereka bertiga kompak, mereka masih percaya dan mendukung penuh Alonso.
Menariknya, Rodrygo sempat dicadangkan pada awal era Alonso. Namun setelahnya, Rodrygo dipercaya main jadi starter, tanpa bikin drama, dan bisa tokcer lagi.
Real Madrid mempromosikan Alvaro Arbeloa sebagai pelatih tim utama. Seperti Alonso, Arbeloa adalah mantan pemain Madrid yang membela raksasa Spanyol itu pada periode 2009–2016 untuk turut mempersembahkan delapan gelar juara, termasuk dua Liga Champions dan satu gelar Liga Spanyol.
Bersama timnas Spanyol, Arbeloa juga menjadi bagian dari generasi emas yang menjuarai Piala Dunia 2010, serta Piala Eropa 2008 dan 2012.
Arbeloa yang berusia 42 tahun itu disebut sebagai Zinedine Zidane yang baru di El Real. Ia merupakan pelatih tim akademi Madrid. Dia memulai karier kepelatihan pada 2020/2021 dengan menangani tim Infantil A Madrid.
Pada musim pertamanya, Arbeloa mengantar Madrid menjadi juara. Pada kompetisi pertama setelah pandemi Covid-19, kompetisi muda yang diikuti Madrid cuma memainkan 17 pertandingan. Arbeloa membawa tim Infantil A Madrid memetik 15 kemenangan dan dua kali imbang.
Pada musim keduanya, Arbeloa promosi ke tim La Fabrica dengan menangani tim Cadete A. Menjalani 30 pertandingan, dia mencatatkan 23 kemenangan dan hanya kalah dua kali. Mereka finis kedua di Liga. Patut ditunggu seperti apa kiprah Arbeloa bersama Madrid. Atau apakah dia akan mengalami nasib serupa seperti Alonso?***
