Perjalanan Kunjungan Kerja Ketua Umum MATAKIN

Rakor FKUB Se-Soloraya di Pendapa Pemkab Klaten.

JAKARTA (LB)–Ketua Umum MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Xs. Budi S. Tanuwibowo didampingi Js. Ruysya Supit (Wakil Sekretaris Bid. Kerohanian), Dq. Auwjang Phin Khuan (Wakil Ketua Bid. Dana), Dq. Abraham,  Ws. Andi Gunawan (Wakil Ketua Bidang Pelayanan Umat dan Ketua MATAKIN Provinsi Jawa Tenggah) serta Dq. Aristya Angga Susanto (Ketua DPN PAKIN) pada Rabu (17/12/2025) lalu menghadiri Rakor FKUB (Rapat Koordinasi Forum Kerukunan Umat Beragama) Se-Soloraya yang digelar di Pendapa Pemkab Klaten.

Dalam momen tersebut, MATAKIN memberikan penghargaan kepada Pemerintah dan FKUB Kab. Klaten atas pencapaian Harmony Award 2025 dari Kementerian Agama RI untuk Kategori Kinerja Terbaik I tingkat Kabupaten, serta mengucapkan terima kasih atas Pembangunan Kelenteng – Rumah Ibadah Khonghucu di Komplek Grha Bung Karno Klaten. 

          Rombongan melanjutkan perjalanan mengunjungi Kelenteng Hwie Ing Kiong Kota Madiun yang merupakan salah satu Kelenteng di Madiun, Jawa Timur yang memiliki sejarah panjang dengan sejumlah daya tarik.

Kunjungan ke Kelenteng Hwie Ing Kiong Kota Madiun.

          Usai ke Madiun, pada Kamis (18/12/2025), rombongan MATAKIN meluncur berkunjung ke Museum SBY – Ani yang terletak di Pacitan.

Museum tersebut merupakan salah satu Museum Kepresidenan terbesar di dunia yang didedikasikan untuk mengenang perjalanan hidup Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan mendiang Ibu Ani Yudhoyono.

Kunjungan ke Museum SBY – Ani.

          Bertolak dari Pacitan, rombongan MATAKIN lalu menyambangi Fasilitas Kerohanian di Universitas Gadjah Mada yang terdiri dari 6 bangunan tempat Ibadah Agama di Indonesia.

Fasilitas Kerohanian tersebut dibangun untuk mewadahi kegiatan-kegiatan kerohanian bagi sivitas UGM yang terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Fasilitas Kerohanian di Universitas Gadjah Mada.

Seusai mengunjungi sejumlah tempat di Prov. Jawa Tengah, Ketum dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Jawa Barat dalam rangka mengisi Kebaktian di MAKIN Banjar dan Ciamis. 

          Ketum MATAKIN dalam khotbahnya menyampaikan bagaimana cara menjadi umat Khonghucu yang baik, salah satunya hidup selaras dengan firman Tuhan.

“Menjadi umat Khonghucu yang baik sejatinya tidak hanya berfokus pada diri sendiri. Selain hidup selaras dengan Firman Tuhan, perlu adanya kepedulian terhadap sesama dan lingkungan hidup serta menghormat kepada senior mulai dari Ayah – Bunda hingga para Tokoh. Selain itu perlu adanya pengembangan diri, karena dunia terus bergerak maju dan berkembang. Sebagai umat manusia kita juga memerlukan relasi, perlu menjalin hubungan baik antar sesama. Tak hanya berfokus pada kehidupan saat ini saja. Jangan lupa hidup terus berjalan, jangan abai dan harus berbenah diri menyiapkan rencana hidup kedepan,” Jelas Ketum MATAKIN Xs. Budi. 

          Hal yang sama disampaikan Ketum dalam khotbah di MAKIN Ciamis.  “Sebelumnya saya dari Banjar juga menyampaikan hal yang sama bahwasannya untuk menjadi umat Khonghucu yang baik harus siap dan Ikhlas dalam menghadapi berbagai hal, termasuk kematian. Apa yang dimaksud Ikhlas? Yaitu yakin bahwa jalan Kebajikan adalah jalan keselamatan menuju Tuhan. Selama orang berbuat baik pasti Tuhan akan berkenan,” terang Xs. Budi. 

Foto bersama usai Kebaktian di MAKIN Ciamis.

          Xs. Budi menyebutkan apa saja yang harus diperhatikan untuk menjadi umat Khonghucu yang baik.  “Kita Ikhlas karena hidup selaras dengan (Tian- Di – Ren) hidup selaras dengan alam, tidak merusak alam dan merugikan orang karena kita tidak serakah, maka matipun ikhlas. Kita juga sudah menjalankan cita – cita leluhur yang baik dan belum kesampaian, menjaga nama baik keluarga dan tidak mempermalukan leluhur. Kita juga harus giat berusaha berjuang sehingga secara ekonomi kita siap, termasuk mendidik anak dengan baik. Kita tidak punya cacat dimasyarakat, nama kita baik, kontribusi kita nyata. Tidak ada beban ketika kita meninggal. Anak cucu kita tidak akan menanggung malu atas perbuatan orangtuanya. Nah kita ikhlas karena semua sudah disiapkan dengan baik,” jelasnya. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *