MATAKIN Selenggarakan Sembahyang Zhēng  pada Saat Dōngzhì

JAKARTA (LB)–Perayaan Dōngzhì / Winter Soltice Festival jatuh tepat pada Minggu (21/12/2025). MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) bersama MAKIN Jakarta Barat selenggarakan Sembahyang Zhēng  pada saat Dōngzhì  dan Kebaktian di Gedung Khonghucu Yayasan Tepasalira, Jl. Jembatan Gambang II No 77, RT/RW 017/001, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara.

                Sembahyang Zhēng  dan Kebaktian pada saat Dōngzhì dipimpin oleh Js. Nurjadi Tan, didampingi oleh Dq. Tjai Liong dan Dq. Wandi.  Persembahyangan tersebut dihadiri oleh sejumlah umat dari berbagai usia. Persembahyangan dimulai dengan penghormatan kepada Tian, dipimpin oleh Js. Nurjadi Tan serta diikuti oleh seluruh umat yang hadir.

                Pada saat Dōngzhì, matahari berada pada posisi 23,5° Lintang Selatan dan bergerak menuju Utara. Masing – masing keluarga berkumpul dan melakukan persembahyangan untuk mengucapkan syukur kepada Tian atas berkat yang telah diterima sepanjang tahun. 

                Disisi lain pada saat Dōngzhì juga diperingati sebagai peristiwa suci saat Tian menurunkan Firman kepada Nabi Agung Kongzi sebagai Tian Zhi Mu Duo (Genta Rohani Tian), membawakan ajaran suci yang mencanangkan Firman Tian bagi kehidupan umat manusia.

                Dalam Khotbahnya Xs. Budi S. Tanuwibowo, Ketua Umum MATAKIN memaparkan ayat renungan yang diambil dari Mengzi : Jilid VI B : 15 “Bingcu berkata, “Sun menjadi orang besar, mulai dari bekerja di tengah sawah. Hu-wat ketika diangkat, ia sedang mengerjakan dinding rumahnya. Kau-kik ketika diangkat, ia sedang berdagang ikan dan garam. Kwan I-go ketika diangkat, ia masih di penjara. Sunsiok Go ketika diangkat, ia sedang mengasingkan diri di suatu tepi laut. Pikli Hee ketika diangkat, ia sedang di pasar.” (Su King IV.7)

                2. “Begitulah kalau Tuhan YME hendak menjadikan seseorang besar, lebih dahulu disengsarakan batinnya, dipayahkan urat dan tulangnya, dilaparkan badan kulitnya, dimiskinkan sehingga tidak punya apa-apa, dan digagalkan segala usahanya. Maka dengan demikian digerakkan hatinya, diteguhkan Watak Sejatinya, dan bertambah pengertiannya tentang hal-hal yang ia tidak mampu.”

                3. “Kalau orang selalu menderita, ia tentu akan dapat memperbaiki kesalahannya. Kalau orang sudah banyak menderita dalam hatinya, dan menanggung kesukaran dalam pikirannya, baharulah ia akan bertindak benar-benar. (Begitupun dalam berbicara) kalau sudah disertai wajah yang sungguh dan suara yang tegas, baharulah orang mau mengerti.”

                Dalam jabarannya Xs. Budi menggaris bawahi intisari yang dapat diambil dari ayat tersebut “Begitulah ketika Nabi pada zamannya mengembara menyebarkan ajaran-Nya, Ia terlunta – lunta, kelaparan, disalahpahami tetapi beliau tetap kokoh pendirian untuk menyebarkan ajaran-Nya, karena apa?

                Karena Nabi mempunyai 5 Matahari. Matahari pertama memberi cahaya dan energi bagi semua makhluk di bumi. Semua orang punya matahari pertama. Ada lagi matahari kedua yaitu Zhi. Zhi atau kearifbijaksanaan yang memungkinkan kita memahami mana yang benar dan salah. Matahari ketiga adalah Ren yaitu Cinta Kasih, ketulusan, kemanusiaan yang keluar dari hati. Yang keempat adalah Yong keberanian, dan yang terakhir adalah Belajar dan selalu dilatih. Umat Khonghucu juga wajib “mempunyai” kelima matahari tersebut, agar mempunyai energi yang tidak pernah habis” tutur Ketum MATAKIN

                “Coba kalau dahulu Nabi Kongzi tidak meninggalkan kenyamanan dan pergi mengembara, mungkin beliau hanya akan dikenal sebagai seorang Menteri di Negara nya, begitulah ketika seseorang ditempa oleh kehidupan niscaya akan menjadi orang besar jikalau dalam keputusannya diambil dengan penuh tanggung jawab dan berorientasi pada Kebajikan” jelas Xs. Budi. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *