Trump Ancam Kirim Rudal Tomahawk  ke Ukraina Jika Putin tak akhiri Perang

WASHINGTON (LB)–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan menawarkan rudal jarak jauh Tomahawk yang dapat digunakan Ukraina. Tomahawk akan dikirim ke Kyiv jika Presiden Rusia Vladimir Putin tidak mengakhiri perang di Ukraina.

Trump menyatakan telah membahas rencana tersebut dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Keduanya berbicara melalui sambungan telepon.

Rudal Tomahawk memiliki jangkauan hingga 2.500 km, yang cukup jauh untuk menyerang wilayah Rusia, termasuk Moskow. Kremlin sebelumnya telah memperingatkan keras terhadap pemberian Tomahawk kepada Ukraina.

Trump menjelaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan menjual rudal tersebut secara langsung kepada Ukraina, tetapi akan menyediakannya kepada NATO, yang kemudian dapat menawarkannya kepada Ukraina.

“Ya, saya mungkin akan memberitahu dia (Putin), jika perang tidak diselesaikan, kami mungkin akan melakukannya. Apakah mereka ingin Tomahawk menuju ke arah mereka? Saya rasa tidak,” jelas Trump seperti dilansir BBC, Senin (13/10).

Sebelumnya, Zelenskyy mengatakan Ukraina hanya akan menggunakan rudal Tomahawk untuk tujuan militer dan tidak akan menyerang warga sipil di Rusia.

“Kami tidak pernah menyerang warga sipil mereka. Ini adalah perbedaan besar antara Ukraina dan Rusia. Itulah mengapa, jika kita berbicara tentang jarak jauh (rudal), kita hanya berbicara tentang target militer,” katanya.

Sementara itu, Ancaman Tomahawk segera memicu kekhawatiran besar di Moskow.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut topik ini sebagai “kekhawatiran yang sangat besar” bagi Rusia, terutama karena beberapa versi Tomahawk mampu membawa hulu ledak nuklir.

Putin sendiri telah memperingatkan bahwa pasokan Tomahawk akan memicu “tahap eskalasi baru yang kualitatif,” mengklaim bahwa rudal tersebut mustahil digunakan tanpa partisipasi langsung personel militer AS.

Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron mendukung pendekatan tekanan keras ini.

Setelah berbicara dengan Zelenskyy, Macron mengutuk serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina.

“Jika Rusia tetap bersikeras dalam hasutan perangnya dan menolak untuk datang ke meja perundingan, mereka harus membayar harganya,” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera.

Di tengah diskusi soal Tomahawk, Ukraina kembali menjadi sasaran serangan masif Rusia.

Dalam sepekan terakhir, lebih dari 3.100 drone, 92 rudal, dan 1.360 bom luncur dijatuhkan ke wilayah Ukraina, termasuk infrastruktur energi yang menjadi target utama menjelang musim dingin.

Serangan pada Jumat lalu bahkan disebut sebagai “salah satu yang paling terkonsentrasi” oleh Perdana Menteri Ukraina Yulia Svyrydenko, menyebabkan pemadaman listrik besar-besaran di seluruh negeri.

Dua pekerja dari perusahaan energi terbesar Ukraina, DTEK, terluka dalam serangan terhadap gardu induk di wilayah Kyiv.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *