Seperti Apa Performa MU Setelah Era Amorim?

Ruben Amorim dan Harry Maguire, harus berpisah.

MANCHESTER –  Sejumlah pemain Manchester United (MU), termasuk nama-nama senior seperti Bruno Fernandes dan Harry Maguire, menyampaikan pesan perpisahan dan ucapan terima kasih kepada Ruben Amorim melalui media sosial, setelah pelatih asal Portugal itu dipecat pada Senin (5/1).

Maguire menjadi salah satu pemain pertama yang mengunggah pesan dalam Instagram Story miliknya. “Terima kasih untuk segalanya, bos. Saya mendoakan yang terbaik untuk masa depan Anda,” tulis bek tengah Inggris tersebut.

Fernandes menyusul memberikan pesan singkat kepada rekan senegaranya tersebut. “Terima kasih, Mister! Semoga Anda dan staf pelatih selalu sukses,” tulis kapten Manchester United itu.

Keputusan pemecatan Amorim diambil setelah rentetan hasil buruk yang diderita Setan Merah, termasuk imbang 1-1 melawan Leeds United pada Minggu (4/1).

Situasi makin memanas setelah Amorim secara terbuka mengkritik manajemen klub dalam konferensi pers pascalaga. Amorim sebenarnya membawa harapan saat ditunjuk sebagai pelatih Manchester United pada November 2024.

Dia berhasil mengantar tim ke final Liga Europa musim lalu, sebelum dikalahkan 0-1 oleh Tottenham Hotspur. Namun, performa United di Liga Inggris di bawah Amorim mengecewakan.

Dia mencatat rasio kemenangan terburuk (32 persen), jumlah kebobolan per pertandingan tertinggi (1,5), dan persentase clean sheet terendah (15 persen) dibandingkan pelatih-pelatih United sebelumnya.

Pemain lain seperti Mason Mount, Amad Diallo, Diogo Dalot, dan Matthijs de Ligt turut mengunggah pesan perpisahan dan doa terbaik kepada Amorim.

Mantan gelandang MU Darren Fletcher sementara melatih tim saat dijamu Burnley pada Kamis (8/1) dinihari WIB. Manajemen MU tengah mempertimbangkan penunjukan pelatih interim hingga akhir musim, sembari mencari pelatih permanen.

Beberapa nama mencuat sebagai kandidat pelatih tetap, antara lain Gareth Southgate dan Oliver Glasner, yang kontraknya bersama Crystal Palace berakhir akhir musim ini.

Mantan pelatih Barcelona, Xavi Hernandez, juga disebut-sebut, sementara Thomas Tuchel berpeluang melatih tim ini setelah menangani Inggris dalam Piala Dunia 2026.

Kembali ke Fletcher, ia sebelumnya mantan gelandang itu memegang tim U-18 MU. Meski hanya berstatus manajer interim alias sementara, Fletcher setidaknya telah mewujudkan mimpi besarnya sebagai pelatih. Pada 2019 silam, ia menyatakan ambisi utamanya di dunia manajerial adalah menangani skuad utama MU.

“Tidak berbeda dari saat menjadi pemain, ketika saya ingin jadi pesepakbola saya ingin bermain buat klub terbesar dan terbaik di dunia. Itulah yang saya incar dan saya beruntung bisa melakukannya di Manchester United. Lalu ketika saya melangkah ke tangga manajemen, target saya adalah menjadi manajer Manchester United, sebab itulah puncaknya bagi saya. Tidak ada yang lebih baik, tidak ada yang lebih besar,” ujarnya.

Para suporter MU mulai saat ini bisa menantikan gaya main yang lebih cepat dan transisional di bawah Fletcher. “Serangan-serangan yang cepat, ciri khas United. Saya sudah tunjukkan cuplikan-cuplikan lama gol-gol serangan balik Wayne Rooney, Cristiano  Ronaldo, Ji-Sung Park, Ryan Giggs dan Andrei  Kanchelskis. Saya coba menunjukkan sedikit DNA Man United itu dan hari ini berakhir fantastis,” kata Fletcher usai membawa MU U-18 menang 4-0 atas Brighton & Hove Albion pada Agustus silam

Sementara itu Gary Neville berharap Manchester United tidak bereksperimen lagi dalam pemilihan manajer. Klub perlu mencari sosok yang memang sesuai dengan gaya mereka.

Ini berarti mereka harus mencari manajer tetap baru lagi untuk yang ketujuh kali, sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013. Amorim hanya sekitar 14 bulan menangani tim setelah dipilih pada November 2024. Sejak 2013, berarti masih Ole Gunnar Solskjaer yang memegang rekor terlama duduk di kursi manajer Setan Merah (35 bulan atau hampir 3 tahun).

MU sejak era kejayaannya bersama Sir Alex selalu dikenal dengan permainan cepat lewat kedua sayap, direct, dan mengandalkan transisi. Fletcher malah sudah memberi indikasi akan menerapkan gaya semacam ini.

“Eksperimen-eksperimen (pemilihan manajer) itu harus dihentikan. Saya selalu merasa sangat bangga dengan klub ini, sepakbola yang berani dan menarik, mau menurunkan pemain muda, dan menghibur para penonton. Mereka harus mengambil risiko dan memiliki keberanian untuk memainkan sepakbola menyerang dan agresif. United telah sampai titik mereka membutuhkan seorang manajer yang sesuai dengan DNA klub sepakbola ini. Barcelona tidak akan pernah berubah untuk siapa pun,” katanya kepada Sky Sports.

Patut ditunggu seperti apa performa MU setelah era Amorim?***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *