Mahmud Abunada, Kiper Qatar.
SANTA CLARA – Qatar berhasil menahan imbang Swiss 1-1 pada matchday pertama Grup B Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Levi’s Stadium, Santa Clara, Minggu (14/6) dini hari WIB. Ini menandakan bahwa The Maroon One mengukir sejarah di pentas dunia.
Pada laga itu, Swiss memimpin 1-0 di babak pertama lewat eksekusi penalti Breel Embolo. Qatar kemudian mengejutkan Swiss lewat gol Boualem Khoukhi di injury time untuk memaksa skor akhir 1-1.
Qatar kini sudah membuat sejarahnya sendiri dengan untuk pertama kali meraih poin di Piala Dunia. Pada edisi 2022 saat menjadi tuan rumah, Qatar menelan tiga kekalahan dalam debut di pentas dunia.
Hasil manis ini tak lepas dari kegemilangan Mahmud Abunada di bawah mistar gawang. Dia banyak membuat penyelamatan krusial sepanjang laga.
Dari tujuh tembakan ke gawang yang dibuat Swiss, Abunada setidaknya membuat empat penyelamatan krusial. Kiper milik klub Al Rayyan itu juga cukup sip dalam membendung bola-bola atas Swiss.
Hasil ini membuat seluruh tim di Grup B meraih satu poin. Kanada dan Bosnia sebelumnya juga bermain imbang 1-1.
Pelatih timnas Qatar Julen Lopetegui mengaku bangga dengan perjuangan anak asuhnya. “Saya sangat bangga dengan tim ini. Saya mengatakan kepada mereka bahwa meski kami tidak mencetak gol dan tidak bermain imbang, saya tetap bangga dengan mentalitas serta disiplin yang mereka tunjukkan hari ini. Namun, beruntung kami mencetak gol dan itu menjadi sebuah sejarah,” kata Lopetegui yang dikutip dari AFP
Bagi Lopetegui, pertandingan ini juga menjadi momen istimewa karena untuk pertama kalinya dia merasakan pengalaman memimpin sebuah tim di Piala Dunia. Momen tersebut datang delapan tahun lebih lambat dari yang sempat dia bayangkan.
Pelatih berusia 59 tahun itu sejatinya dijadwalkan menangani Spanyol di Piala Dunia 2018 Rusia. Namun, beberapa hari sebelum turnamen dimulai, dia dipecat oleh Federasi Sepak Bola Spanyol setelah diumumkan telah mencapai kesepakatan untuk menjadi pelatih Real Madrid usai Piala Dunia.
Sementara pelatih Swiss, Murat Yakin, tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Meski mengapresiasi permainan anak asuhnya, ia mengakui timnya kurang tajam dalam memanfaatkan peluang.
“Kami tidak perlu menyalahkan diri sendiri dalam hal cara kami bermain. Jika Anda melihat statistiknya, kami melakukan 26 tembakan tetapi kami hanya berhasil menghangatkan kiper. Saya pikir kami perlu meningkatkan ketepatan dan kepercayaan diri kita. Cara kami bermain persis seperti yang saya bayangkan. Kami berada di posisi yang bagus, melakukan pergerakan yang bagus, dan menciptakan peluang bagus, tetapi pada akhirnya kami kurang klinis,” ujarnya.***
