Ketum Permabudhi Prof. Philip K. Widjaja saat menyampaikan pandangannya.
JAKARTA (LB)—Permabudhi (Persatuan Umat Buddha Indonesia) kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat harmoni lintas iman pada perayaan World Interfaith Harmony Week dan International Day of Human Fraternity yang digelar IRC (Inter-Religious Council) Indonesia di Gedung Nusantara IV, Jakarta pada Minggu (8/2/2026). Acara ini dihadiri sekitar 700 peserta dari berbagai unsur agama, pemerintah, dan pegiat perdamaian.
Kegiatan berlangsung dalam suasana damai dan penuh suka cita, dengan menghadirkan berbagai forum lintas agama, di antaranya MUI (Majelis Ulama Indonesia), Permabudhi (Persatuan Umat Buddha Indonesia), KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia), PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia), Matakin (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), Pimpinan Pusat Muhammadiyah, serta PB NU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama).

Dalam kata sambutannya, Ketua DPD RI Sultan Bactiar Najamudin menegaskan bahwa Indonesia menjadi contoh nyata keberhasilan hidup rukun dalam keberagaman.
“Indonesia dengan segala keberagamannya dapat hidup rukun. Ini pesan perdamaian yang ingin kami bagikan ke dunia,” ujarnya.
Ada pun dalam penyelenggaraan acara tahun ini, Permabudhi berperan penting melalui kepemimpinan Ritha Helena, Ketua Lembaga Wanita Permabudhi sekaligus Ketua Panitia. Ritha menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung acara, termasuk DPD RI, Kementerian Kehutanan, dan media.

“Mari kita apresiasi Ketua DPD RI dan Kementerian Kehutanan yang mendukung dengan bibit pohon untuk kelestarian alam dan kemanusiaan,” kata Ritha.
Ritha juga memuji dukungan media dalam penyebaran pesan perdamaian. “Indosiar hari ini luar biasa hebat dalam menyebarkan pesan perdamaian ke seluruh penjuru negeri,” ucapnya.
Ia menutup sambutannya dengan ajakan positif. “Mari kita rayakan keragaman dan kebersamaan. Semoga semua makhluk berbahagia,” ucapnya.

Sementara itu Ketua Umum Permabudhi Prof. Philip K. Widjaja, menekankan bahwa pertemuan ini menjadi momentum memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. “Terima kasih kepada semua pihak yang bekerja luar biasa menyelenggarakan acara ini,” ujar Prof. Philip.

Ia menambahkan bahwa keberagaman yang terlihat dalam penampilan seni dan pakaian tradisional bukan untuk menonjolkan perbedaan.
“Yang kita rayakan adalah martabat manusia, kepedulian terhadap sesama, dan komitmen pada keadilan,” ujarnya.

Di tengah tantangan global, Prof. Philip mengingatkan pentingnya peran agama sebagai peneduh. “Suara-suara agama harus menjadi sumber penyembuhan, bukan perpecahan.” Ia mendorong kerja sama lintas iman melalui program kemanusiaan, pendidikan toleransi, dan dialog yang melibatkan perempuan serta generasi muda. “Ketika kita bekerja sama, hasil kolaborasi jauh lebih besar daripada upaya sendiri-sendiri,” ujarnya.

Prof. Din Syamsuddin, Ketua Kehormatan IRC Indonesia, menambahkan bahwa perayaan ini merupakan bentuk dukungan Indonesia terhadap agenda-agenda penting PBB. “Hari ini kita merayakan dua agenda besar yang mengingatkan pentingnya menjaga hubungan antarumat beragama dan persaudaraan kemanusiaan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Pancasila telah menjadi fondasi kokoh bagi kerukunan nasional.
Wakil Menteri Agama Romo Syafei juga mengapresiasi nilai kerukunan yang telah lama menjadi tradisi Indonesia. Menurutnya, semangat tersebut terus dijaga dan diperkuat oleh berbagai unsur masyarakat.
Melalui peran aktifnya, Permabudhi menegaskan kembali komitmennya sebagai jembatan kerukunan lintas agama. Kehadiran dan kontribusinya dalam kegiatan ini menjadi pesan kuat bahwa kerja bersama merupakan kunci menciptakan perdamaian, baik di Indonesia maupun di dunia. **
