Foto bersama (ki-ka) Chen Riling, Haris Chandra, Song Zhuowei, Huang Da, Han Sheng Bao, Mao Kun, Ali Husein, Yusuf Hamdani, Budi Tanuwibowo, dan tokoh lainnya.
JAKARTA – Dalam rangka Memperingati 620 Tahun Pelayaran Cheng Ho (Zheng He) ke Laut Barat, Delegasi Budaya Pertukatan Budaya, Ekonomi dan Perdagangan Tiongkok-ASEAN dalam Kerangka “Belt and Road Initiative” serta Warisan Budaya Tak Benda, menggelar seminar di Gedung Persatuan Perkumpulan Warga Guang Zhao Seluruh Indonesia (Perwaguzsi), Jl Pinangsia I, Jakarta, Selasa (8/7) mulai pukul 14.00 WIB.
Dalam acara yang diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya itu menghadirkan sejumlah pembicara yakni Ketua Aliansi Warisan Budaya Tak Benda Internasional Song Zhuo Wei, Sarjana Internasional Zheng He dan Penggagas Seni Perang Sun Tzu Global Han Shengbao, pengurus Masjid Xixiang dan Monumen Zheng He dari Universitas Xi’an Mao Kun, Wakil Presiden Eksekutif Kamar Dagang Tiongkok-ASEAN dan salah satu pendiri Tangrendao Digital/Metaverse Dr. Huang Da, Komisaris Wanxinda Holdings Chen Riling dan Ketua Umum MATAKIN Budi Santoso Tanuwibowo.

Acara itu digagas oleh Zheng He International Cooperation Organisation dan International Federation of Arts And Cultural Heritage, serta didukung oleh Perkumpulan Persatuan Guangdong Indonesia dan Perkumpulan Pengusaha Kwang Tung Indonesia.
Ketua Umum Perkumpulan Persatuan Guangdong Indonesia, Haris Chandra mengatakan sangat gembira bisa menggelar acara ini. “Kali ini kita mendengarkan para pembicara yang kompeten terkait Cheng Ho. Chen Ho adalah tokoh besar yang meninggalkan warisan luar biasa,” kata Haris.

Setelah itu Song Zhuowei membahas tentang penyebaran dan pengaruh pelayaran Cheng Ho ke Barat yang meninggalkan warisan budaya tak benda dunia.
Han Sheng Bao berbicara tentang kebijaksanaan militer Cheng He. Mao Kun, mengulas tentang Cheng Ho dari aspek agama Islam. Huang Da menyajikan materi visi internasional Cheng Ho terkait dengan kondisi masa kini.

Sedangkan Chen Riling membeberkan materi terkait semangat Cheng Ho untuk berelasi dengan kebajikan dan semangat saling memberi lebih banyak.
Sementara Budi S Tanuwibowo membawakan materi tentang membangun persahabatan yang tulus antara Tiongkok dan Indonesia serta inspirasi dari pelayaran persahabatan Cheng Ho ke Barat dari tahun 1405 hingga 1433.

Budi menjelaskan, sejak Dinasti Han, Tiongkok menjalin hubungan dengan banyak negara tanpa aneksasi wilayah. Itu juga yang dilakukan Cheng Ho saat ia melakukan perjalanan ke banyak wilayah, termasuk ke Indonesia tanpa meninggalkan kesan yang negatif.
Maka, Budi pun menggarisbawahi dalam konteks kehidupan berbangsa dan negara masa kini, Indonesia dan RRT harus terus meningkatkan persahabatan yang harmonis dalam berbagai bidang.

Pelayaran Cheng Ho lebih dari sekadar catatan sejarah. Ini jadi bukti nyata bagaimana pertukaran budaya dapat memperkaya dan memperkuat hubungan antarbangsa. Warisan budaya tak benda yang dibawa Cheng Ho terus hidup dan berkembang, menjadi jembatan penghubung yang erat antara Tiongkok dan Indonesia, serta negara-negara Asia Tenggara lainnya.***
