Pasar Barito masih beraktivitas seperti biasa meskipun diminta mengosongkan pasar per Minggu (3/8.
JAKARTA (LB)- Pedagang Pasar Barito, Jakarta Selatan, meminta agar rencana relokasi ditunda sampai ada kejelasan tempat dan waktu pemindahan. Permintaan ini disampaikan melalui Tim Advokasi Solidaritas Pemasok dan Pedagang Pasar (SP3) Barito yang masih berjaga di kawasan pasar hingga Minggu (3/8) pagi.
“Pedagang itu minta (relokasi) ditangguhkan untuk sampai 2026, sampai tempatnya mendapat kejelasan,” ungkap Tim Advokasi SP3 Barito, Fahmi Akbar saat ditemui di lokasi.
Fahmi menilai proses yang sedang berlangsung belum bisa disebut relokasi. Menurutnya, waktu pemberitahuan yang singkat dan minimnya transparansi membuat langkah ini lebih menyerupai penggusuran.
“Menurut kami ini belum jelas, itu kan sebenarnya harus ada trial dulu. Pedagang juga diberikan pemberitahuannya sebulan disuruh kosongin,” jelas dia.
Senada dengan itu, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Barito, Karno (64), mengungkapkan bahwa lokasi relokasi yang ditawarkan di Lenteng Agung, Jagakarsa, belum siap.
Ia menyebut area tersebut masih berupa lahan kosong, dan belum ada kepastian mengenai pembangunan pasar baru di sana. “Nah, ditunjuk Lenteng Agung, itu kondisinya masih kosong. Lah gimana? Mau bikin sengsara rakyat?” katanya.
Selain kekhawatiran soal lokasi, para pedagang juga resah karena potensi kehilangan pelanggan tetap.
Pasar Barito yang telah berdiri sejak 1970-an memiliki pelanggan loyal, dan relokasi diyakini akan berdampak pada penghasilan.
“Ada memang kekhawatiran pedagang tentang penjualan dan pelanggan nanti kalau dipindah (ke Lenteng Agung), karena kan perlu waktu lama biar bisa dikenal apalagi kayak di sini,” jelas Karno.
Karno juga menyinggung momen perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang semakin dekat.
Ia berharap pemerintah juga memberikan “kemerdekaan” bagi para pedagang kecil. “Ini kami mau ke mana? Ada 137 kios lho, mau bikin orang nganggur? Tolong lah dipikirkan. Ini kan lagi mau Agustusan, merdekaan. Harus merdeka lah kita,” tuturnya.
Sebagai informasi, relokasi ini berkaitan dengan proyek pembangunan Taman ASEAN atau Taman Bendera Pusaka yang akan menggantikan Pasar Barito. Proyek ini merupakan bagian dari rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperluas ruang terbuka hijau (RTH).
Taman Bendera Pusaka nantinya akan menggabungkan tiga taman yang sudah ada sebelumnya, yakni Taman Leuser, Taman Ayodhya, dan Taman Langsat. Proyek taman Bendera Pusaka tersebut ditargetkan rampung pada Desember 2025.
Pemerintah menyebut taman ini akan menjadi ruang publik baru yang ikonik. Saat Jakarta tidak lagi menjadi ibu kota negara, Taman Bendera Pusaka diharapkan menjadi simbol identitas baru Jakarta sebagai Ibu Kota ASEAN, mengingat gedung Sekretariat ASEAN berada di kawasan tersebut. “Jadi, ini adalah untuk menjadikan kawasan Blok M sebagai pusat transportasi dan perbelanjaan, dan yang kedua sebagai City ASEAN. Jadi, rencananya taman itu akan menunjang taman-taman di ASEAN yang ada di wilayah Jakarta Selatan,” kata Walikota Jakarta Selatan, M. Anwar, di Jakarta, Selasa (1/7). *
