Ngaku Teknokrat, Pramono: Saya Bagian Mikir, Enggak Mau Ikut Nyemplung Kali

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung saat memberikan sambutan dalam kunjungan kelas Lemhanas di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Rabu (24/9).

JAKARTA (LB)- Gubernur Jakarta, Pramono Anung menegaskan pendekatannya sebagai seorang teknokrat, lebih fokus pada perencanaan dan kebijakan daripada pekerjaan teknis di lapangan. Menurut dia, program yang dirancang harus langsung menyentuh akar masalah, termasuk penanganan banjir dan pendidikan.

Pramono menekankan, tugas teknis di lapangan menjadi tanggung jawab petugas, sementara dirinya fokus pada arah kebijakan.

Ia mencontohkan pengerukan sungai sebagai salah satu upaya mengurangi banjir di Jakarta. “Saya ini terbiasa teknokrasi, bagian mikir, maka saya enggak mau ngeruk kali, ikut nyemplung kali, enggak mau. Iya, enggak mau, enggak mau,” ujar Pramono saat memberikan sambutan dalam kunjungan kelas Lemhanas di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Rabu (24/9).

“Saya bagian mikir sajalah sudah. Saya enggak mau kemudian harus masuk ke sungainya, enggak, enggak,” kata Pramono lagi.

Teknokrat adalah individu yang ahli di bidang teknis dan ilmiah, yang memegang peran penting dalam sistem pemerintahan atau organisasi. Ia menekankan program-program yang langsung menyentuh masyarakat, salah satunya pengerukan sungai di kawasan permukiman padat. Beberapa titik yang masih memprihatinkan meski dekat pusat kota antara lain Tanah Tinggi, Kampung Melati, dan Tanah Abang.

“Kalau melihat persoalan di Jakarta, beberapa tempat yang tidak jauh dari kemegahan kota, kehidupannya memprihatinkan. Misalnya Tanah Tinggi, Kampung Melati, Tanah Abang, dan kami punya program sekarang ini sungainya kita keruk semua,” jelasnya.

Di bidang pendidikan, Pramono menyebut Pemprov telah memperluas manfaat Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU). Program ini sebelumnya hanya untuk jenjang S1, kini juga mencakup S2 dan S3 dengan total penerima sebanyak 16.979 mahasiswa.

“Kenapa ini diberikan? Untuk memotong garis ketidakberuntungan dalam keluarga yang tidak mampu. Jika ada anaknya yang bisa S2, S3, saya yakin, inilah anaknya yang akan memotong garis ketidakberuntungan dalam keluarganya, karena minimal S2, S3 untuk mencari pekerjaan pasti jauh lebih gampang,” kata Pramono.

Selain itu, Pemprov tengah menyiapkan program beasiswa setara Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yang dibiayai pemerintah daerah. Program ini memungkinkan anak-anak Jakarta melanjutkan pendidikan di universitas terbaik dunia. “Anak Jakarta boleh sekolah ke mana saja, sekolah-sekolah terbaik dunia, apakah di Harvard, Columbia, dan sebagainya. Pemerintah DKI yang membiayai, tetapi untuk tahap pertama saya ingin tahun depan mudah-mudahan bisa 100 anak,” ungkapnya. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *