Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya, Arif Rahman Gumilar.
TASIKMALAYA (LB)- Tingkat pengangguran di Kota Tasikmalaya masih tergolong tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran mencapai sekitar 25 ribu orang dari kelompok usia kerja.
Kondisi itu menunjukkan masih banyak angkatan kerja, terutama usia produktif, yang belum terserap ke dunia kerja. Pemerintah daerah pun terus berupaya memperluas lapangan pekerjaan dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor.
Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya, Arif Rahman Gumilar, mengatakan tingginya angka pengangguran dipengaruhi terbatasnya investasi di daerah. Menurutnya, kondisi tersebut membuat pertumbuhan dunia usaha di Kota Tasikmalaya berjalan stagnan.
“Di Kota Tasikmalaya itu investor terbatas, jadi perkembangan dunia usaha stagnan. Tidak seperti di daerah lain seperti Bekasi atau Garut yang industrinya lebih banyak tumbuh,” ujar Arif di ruang kerjanya, Jumat, (8/5).
Selain persoalan investasi, Disnaker juga menyoroti belum selarasnya kebutuhan industri dengan kompetensi lulusan pendidikan, khususnya lulusan SMK. Kesenjangan keterampilan dinilai masih menjadi kendala dalam penyerapan tenaga kerja.
Arif menuturkan, pihaknya terus mendorong terjalinnya komunikasi yang lebih baik antara dunia pendidikan dan dunia industri agar lulusan memiliki kemampuan sesuai kebutuhan perusahaan.
“Perusahaan butuh skill apa, lulusannya bagaimana. Lulusan SMK itu harus siap bekerja,” katanya.
Di sisi lain, Disnaker Kota Tasikmalaya juga membuka peluang kerja melalui kerja sama dengan sejumlah lembaga pelatihan kerja (LPK) yang menyalurkan tenaga kerja ke luar negeri, seperti Jepang dan Jerman. Namun, minat masyarakat Kota Tasikmalaya untuk mengikuti program tersebut masih rendah.
Menurut Arif, peserta yang mendaftar ke LPK justru lebih banyak berasal dari luar Kota Tasikmalaya dibandingkan warga setempat.
“Hasil pesertanya memang banyak, tapi yang mendaftar justru lebih banyak dari luar Kota Tasikmalaya. Di kita peminatnya kurang,” ucapnya.
Ia menilai rendahnya minat tersebut dipengaruhi kurangnya sosialisasi serta kultur masyarakat yang cenderung enggan merantau jauh.
Sementara itu, pada 2026 ini terdapat kebutuhan tenaga kerja cukup besar dari salah satu perusahaan garmen yang membutuhkan sekitar 3.000 pekerja. Namun, ketersediaan lulusan yang sesuai untuk sektor tersebut dinilai masih terbatas.
Arif menambahkan, setiap bulan terdapat sekitar 26 perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan melalui aplikasi “Hayu Gawe”. Meski demikian, peminat dari Kota Tasikmalaya masih minim dan lowongan lebih banyak diisi pencari kerja dari luar daerah. “Peluang kerja sebetulnya banyak. Sayang sekali, kesempatan kerja yang ada masih kurang direspons oleh masyarakat kita,” pungkasnya. *
