Kasus DBD Masih Menghantui Masyarakat

JAKARTA(LB)- Dokter Spesialis Anak di Bethsaida Hospital Gading Serpong Venty mengatakan penyakit demam berdarah dengue (DBD) bisa fatal bila dialami anak. Virus DBD pada anak sering kali berkembang dengan cepat. 

“Orang tua harus peka terhadap gejala awal dan jangan menunda pemeriksaan. Deteksi dini dan pemberian cairan yang cukup bisa sangat membantu mencegah kondisi menjadi lebih berat,” kata Venty, baru baru ini.

Ia menjelaskan bahwa pencegahan bisa dilakukan sejak di rumah. 

“Jika anak demam dan dicurigai DBD, orang tua perlu memberikan cairan cukup agar tidak dehidrasi,” katanya menambahkan. 

Para orang tua pun bisa mengompres anak dengan air hangat. Lalu memberikan obat penurun panas sesuai anjuran dokter. Kemudian memantau kondisi dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila ada tanda bahaya. “Keberhasilan pengobatan sangat ditentukan oleh diagnosis dini, pemantauan klinis, dan pemberian cairan yang tepat,” kata Venty.

Pencegahan juga perlu dilakukan di lingkungan Rumah. Venty mengingatkan bahwa nyamuk aedes aegypti cepat berkembang biak di air bersih. Untuk memutus siklusnya, keluarga perlu rutin melakukan 3M Plus.

 Menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air serta mengubur atau mendaur ulang barang bekas.

 Bisa pula mengambil langkah lain seperti memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menaburkan larvasida pada tempat penampungan air, menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela & pemakaian kelambu.

 Melibatkan anak dalam menjaga kebersihan rumah bisa menjadi edukasi yang menyenangkan sekaligus melindungi keluarga dari DBD.

“Selain 3M Plus, perlindungan tambahan terhadap DBD dapat diberikan melalui vaksinasi dengue. Vaksin ini bekerja membentuk kekebalan tubuh terhadap virus dengue dan direkomendasikan untuk anak dari usia 4 tahun sampai dewasa usia 60 tahun,” tambah Venty.

Sebelumnya, demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan serius di Indonesia pada semua kelompok usia termasuk anak-anak. Penyakit infeksi akut ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti (paling banyak), nyamuk belang hitam putih yang kerap menggigit pada pagi hingga sore hari.

Data menunjukkan, 73 persen kasus dengue terjadi pada usia 5–44 tahun, dan kasus kematian terbanyak dialami kelompok usia 5–14 tahun. Fakta ini menegaskan pentingnya perhatian khusus orang tua dalam mengenali, mencegah, sekaligus melindungi anak dari ancaman DBD.

DBD menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk betina menghisap darah untuk mematangkan telur, dan uniknya, ia bisa menggigit berulang-ulang sekaligus ke banyak orang dalam satu waktu. 

Jarak terbangnya relatif dekat, sekitar 100–200 meter, sehingga penularan cepat terjadi di lingkungan rumah atau sekitar tempat tinggal.

Nyamuk ini senang bersembunyi di tempat gelap seperti pakaian yang tergantung di balik pintu, kolong meja, atau kursi. Mereka juga berkembang biak di penampungan air bersih yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah seperti di tong penampungan air hujan dan barang bekas.

Semntara itu, proses telur hingga menjadi nyamuk dewasa hanya memerlukan waktu sekitar 7–10 hari. Karena itu, pengurasan tempat air minimal setiap 7 hari menjadi langkah penting untuk memutus siklus hidup nyamuk. Jika telur bersentuhan dengan air, ia akan berubah menjadi jentik (larva), kemudian kepompong, lalu akhirnya nyamuk dewasa yang siap menularkan virus dengue.

DBD bisa menyerang kapan saja, termasuk anak-anak. Dengan langkah pencegahan mulai dari pemutusan siklus hidup nyamuk, menjaga kebersihan rumah, serta perlindungan vaksinasi, orang tua dapat membantu melindungi buah hati dari ancaman serius penyakit ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *