Skuad Chelsea bersama Presiden Donald Trump memperlihatkan trofi Piala Dunia Antarklub 2025.
EAST RUTHERFORD – Chelsea menjadi juara Piala Dunia Antarklub 2025 usai mengalahkan Paris Saint-Germain (PSG) 3-0 pada laga final. Bermain di MetLife Stadium, Senin (14/7) dini hari WIB, tiga gol Chelsea dicetak Cole Palmer (22 dan 30) dan Joao Pedro (43).
Titel tersebut menjadi yang kedua bagi The Blues sepanjang sejarah turnamen dan menjadi yang kedua setelah tahun 2021, yang juga menjadi trofi terakhir di era kepemilikan Roman Abramovich. Mereka sempat masuk final juga pada edisi 2012, namun kalah 0-1 dari Corinthians.
Sedangkan bagi PSG, mereka gagal meraih gelar pertama di ajang ini. Mereka punya kesempatan menebusnya pada 2029 karena mereka juga telah dipastikan ikut serta.
Hasil ini boleh dibilang di luar prediksi, karena PSG sejatinya lebih diunggulkan, terlebih bila melihat kualitas lawan-lawan yang mereka singkirkan di fase sebelumnya, seperti Bayern Munich dan Real Madrid. Namun mereka justru berhasil diredam oleh Chelsea.
Meski menguasai 67 persen bola dan melepaskan enam shot on target, para penyerang PSG gagal membobol gawang Chelsea yang dijaga Robert Sanchez. Sedangkan Chelsea ‘hanya’ butuh lima tembakan ke gawang dari penguasaan bola yang minim untuk mencetak tiga gol.
Kemenangan ini tak lepas dari keberhasilan Enzo Maresca yang menemukan celah untuk membongkar pertahanan PSG. “Kami pikir punya peluang bagus memanfaatkan ruang (di lini tengah). Kami mengoptimalkan Cole (Palmer) dan Malo (Gusto) untuk menciptakan overload di area tersebut. Itu hanya rencana permainan dan kami mencoba menempatkan para pemain di posisi yang mereka bisa melakukan segalanya. Itu berjalan cukup baik.” ujar Maresca seperti dikutip The Athletic.
Seluruh gol Chelsea tercipta dari sektor kanan atau sisi kiri pertahanan PSG. Maresca memang sejak awal mengincar area tersebut. “Saya suka catur dan ingin menjadi pemain, tetapi saya bukan ahli. Namun, kali ini, kami menganalisis permainan dan merasa ada banyak ruang di sayap kiri mereka dan kami ingin menjelajahi sisi itu. Pada akhirnya, Anda bisa memberikan rencana, tetapi Anda membutuhkan pemain Anda untuk mengeksekusi dan mereka melakukannya dengan sangat baik,” ujarnya.
Ini menjadi gelar kedua yang diberikan Maresca untuk Chelsea sejak ditunjuk pada tahun lalu. Sebelumnya ia membawa The Blues memenangi Conference League dengan mengalahkan Real Betis 4-1 di final.
Cole Palmer tampil luar biasa di laga final. Selain cetak gol ia juga bikin satu assist. Walau Maresca memainkan Palmer di sisi kiri penyerangan, ia kerap kali turun menjempt bola bola lalu bergerak ke halfspace atau ke tengah.
Hal ini membuat pergerakan Palmer begitu sulit dibaca oleh lini belakang PSG. Dua gol Palmer lahir dari proses yang nyaris serupa. Ia mendapatkan ruang di kotak penalti sebelum melepas tembakan mendatar ke pojok kanan gawang PSG yang tak terjangkau Gianluigi Donnarumma.
Performa bagusnya ini turut membuat Palmer mendapatkan gelar Pemain Terbaik di laga itu. Palmer total mengemas tiga gol dan dua assist pada ajang ini.
Ia juga sudah selalu unjuk gigi dalam tiga final terakhir baik di level klub maupun timnas. Buktinya adalah keterlibatan dalam terciptanya enam gol. Palmer bikin satu gol, kala memperkuat Inggris di final Piala Eropa 2024. Hanya saja ending-nya tak manis karena Inggris kalah 1-2 dari Spanyol.
Di level klub, sebelumnya ia bikin dua assist saat Chelsea mengalahkan Real Betis. Kini Palmer membuktikan lagi, dirinya memang diciptakan untuk laga-laga besar. “Saya suka final dan ini terjadi lagi,” kata Palmer dikutip Sky Sports.
Sementara pelatih PSG Luis Enrique mengakui lawan tampil bagus dan pantas juara. “Saya rasa kami tampil sangat bagus di turnamen ini, meski kami tak mampu membawa pulang trofinya. Kami kecewa, ini tidak mudah, tapi beginilah olahraga di level tertinggi. Inilah hidup, Anda harus menerimanya. Saya rasa Chelsea bermain sangat baik dan pantas untuk menang. Kami menerimanya. Sekarang musim berakhir. Ini kampanye yang sangat panjang dan sekarang waktunya menikmati liburan kami,” kata Enrique di situs klub.
Meski gagal menambahkan gelar juara dunia ke dalam koleksi titel PSG musim ini, Enrique menyebut timnya bukan pecundang. “Kami bukan pencudang, tidak ada yang namanya pencudang. Kami runner-up. Pecundang adalah seseorang yang menyerah. Ini level tinggi olahraga ini, tidak ada pecundang atau apa pun itu,” tandas Enrique.***
