Pemain Inggris saat mengalahkan Albania.
TIRANA – Inggris dipastikan sempurna di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Dua gol Harry Kane membawa Inggris mengatasi Albania 2-0 dalam laga yang berlangsung di Arena Kombetare, Senin (17/11) dini hari WIB.
Tim besutan Thomas Tuchel dibikin harus bersabar meski bermain sangat dominan. Tekanan demi tekanan Inggris baru membuahkan hasil pada menit ke-74. Tembakan Harry Kane dari jarak dekat menyambut bola liar dalam situasi korner memecah kebuntuan.
Kane bikin gol keduanya pada menit ke-82. Kali ini menyambut umpan silang Marcus Rashford dari kiri dengan sundulan, yang berakhir di pojok kanan bawah gawang.
Inggris memegang 70% penguasaan bola dan punya tujuh peluang on target berbanding hanya dua milik tuan rumah. Kemenangan ini memastikan Inggris yang sudah lolos ke Piala Dunia 2026 sejak Oktober lalu finis dengan sempurna. The Three Lions mengumpulkan 24 poin, hasil delapan kali menang dari delapan laga.
Mereka mencetak 22 gol sepanjang delapan laga itu dan tak kebobolan sama sekali. Sementara Albania akan maju ke play-off setelah finis kedua dengan 14 poin, satu poin di depan Serbia.
Soal catatan 100% di kualifikasi Piala Dunia zona Eropa, Inggris ternyata bukan tim pertama yang melakukannya. Pada 71 tahun yang lalu sudah ada negara yang melakukannya yakni Yugoslavia.
Bedanya, Yugoslavia yang kini sudah bubar mencatatkan 100% kemenangan tanpa kebobolan sama sekali dalam format empat laga. Sementara Inggris melakukannya dalam delapan laga.
“Inggris menjadi negara Eropa pertama yang memenangi delapan laga kualifikasi tanpa kebobolan satu gol pun,” catat Sky Sports.
Pasukan Thomas Tuchel kini akan menunggu undian Piala Dunia di Washington DC pada 5 Desember untuk mengetahui lawan mereka di babak penyisihan grup.
Tuchel sendiri mengaku senang dengan cara timnya, dengan tujuh perubahan dari kemenangan Kamis atas Serbia, menangani pertandingan sulit dalam atmosfer panas di Tirana.
“Pertandingan yang bagus, saya menyukainya. Serbia sulit, sulit, pertandingannya, menegangkan. Namun kami memegang kendali penuh dan kemudian tiba-tiba kehilangan kendali, tetapi mengatasi beberapa momen sulit dan mengatasi atmosfer seperti ini serta membuka pertandingan dengan gol dari bola mati. begitu banyak hal yang baik,” ujarnya di BBC.
Perubahan susunan pemain yang dilakukan Tuchel membuat Jarell Quansah melakukan debut di lini pertahanan Inggris, sementara Adam Wharton mendapatkan kesempatan bermain pertamanya untuk Three Lions.
Menurutnya, kedua pemain itu melakukan tugas dengan baik, bahkan melalui perubahan taktik yang dilakukan di babak kedua saat Inggris berusaha keras untuk meraih kemenangan.
“Ini adalah skuad yang sangat kuat. Setiap orang yang menjadi starter memang pantas (untuk itu), tetapi memengaruhi permainan dari bangku cadangan adalah sebuah keistimewaan dan para pemainnya fantastis. Adam (Wharton) bagus, itu tidak mudah karena kami mencoba yang sedikit berbeda dalam build-up dengan John Stones. Di babak kedua, kami sedikit membalikkan keadaan sehingga dia sendirian dan terkadang sedikit terekspos, itu bukan salahnya dan secara keseluruhan, dia bermain dengan baik. Saya harus bilang saya sangat terkesan dengan debutan kami, Jarell Quansah, pada pertandingan pertamanya, dia bermain seperti sudah berusia 50 tahun. Selamat untuk semua pemain muda, Nico O’Reilly juga memainkan pertandingan yang fantastis,” tuturnya.
Namun Jude Bellingham tampak kesal karena ditarik keluar di menit ke-84, digantikan Morgan Rogers. Dia mengisyaratkan kekecewaan dengan gestur tangannya. Reaksi kekecewaan Bellingham ditanggapi tegas oleh Tuchel.
“Saya tidak ingin membesar-besarkannya, tetapi saya tetap pada kata-kata saya, ‘perilaku adalah kunci’ dan rasa hormat terhadap rekan satu tim yang datang,” pelatih asal Jerman itu.***
