Hamparan gulma eceng gondok di permukaan Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat yang diduga menjadi sarang nyamuk yang mengganggu masyarakat bantaran.
BANDUNG BARAT (LB)- Warga bantaran Waduk Saguling tepatnya di Kampung Bonceret, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, mengeluhkan serangan nyamuk dalam jumlah tak biasa selama lima bulan terakhir.
Warga menduga ledakan populasi nyamuk tersebut dipicu rapatnya tanaman eceng gondok yang menutupi muka air di perairan Waduk Saguling.
Serangan nyamuk disebut terjadi hampir sepanjang hari, mulai dari siang hingga malam. Warga mengaku aktivitas sehari-hari menjadi terganggu karena gerombolan nyamuk terus mengerubuti permukiman.
“Jadi, siang hari juga banyak bergerombol. Bukan hanya di rumah, di luar rumah juga banyak. Apalagi kalau pakai baju warna gelap, pasti dikerubuti. Kalau malam makin banyak lagi,” kata warga RW 10 Kampung Bonceret, Anung Sudrajat (55), Jumat (8/56).
Menurut Anung, nyamuk yang menyerang warga memiliki ciri berbeda dibanding nyamuk rumah pada umumnya. Ukurannya disebut lebih besar dari nyamuk biasanya dengan belang dan warna kuning kecoklatan.
“Kami belum tahu ini jelas nyamuk apa, berbahaya atau tidak. Yang jelas mereka datang dari perairan waduk yang tertutup eceng gondok,” ujar Anung.
Akibat gigitan nyamuk tersebut, sejumlah warga mengalami keluhan berbeda-beda. Mulai dari rasa gatal biasa, bentol beruntus, hingga luka pada kulit akibat garukan. Warga berharap pemerintah maupun pihak terkait segera melakukan penelitian untuk mengetahui jenis nyamuk tersebut serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
“Kami enggak tahu apakah ini berdampak terhadap kesehatan atau tidak. Mudah-mudahan ada titik terang,” tutur Anung.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Uus (60). Ia menyebut populasi nyamuk meningkat seiring meluasnya eceng gondok di kawasan Waduk Saguling, terutama saat debit air meningkat.
“Setiap hari kami merasa terganggu oleh nyamuk ini, pemicunya eceng gondok, apalagi kondisi air ketika naik,” ucap Uus.
Menurutnya, pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali diduga mengganggu ekosistem waduk dan memicu berkembangbiaknya nyamuk di kawasan tersebut.
“Kalau eceng gondok banyak, jadi ikan pada di bawah, akhirnya nyamuk berkembang biak dengan cepat. Mudah-mudahan eceng gondok ini cepat diangkut,” tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak sekitar 94 hektare area Waduk Saguling kini diselimuti eceng gondok yang tumbuh masif dan menyebar di permukaan perairan.
Kondisi ini menjadi ancaman baru bagi ekosistem waduk sekaligus fungsi vitalnya sebagai sumber energi listrik Jawa-Bali. Senior Manager PLN Indonesia Power (IP) UBP Saguling, Doni Bakar, mengatakan pertumbuhan eceng gondok di waduk tidak terlepas dari tingginya beban pencemaran, termasuk sampah yang masuk Sungai Citarum dan kemudian memicu proses ekologis berantai. *
