Doa dan Harapan Dipanjatkan, 100 Lilin Imlek Vihara Dharma Ramsi, Simbol Doa Umat dalam Cahaya

Kwok Soei Tji (70), pengurus Vihara Dharma Ramsi disela-sela persiapan Peryaan Tahun Baru Imlek 2026. Sebanyak 100 lilin Imlek dipesan umat Tionghoa sebagai ucapan doa dan harpaan yang akan dipajang di vihara tersebut.

BANDUNG (LB)- Sekitar 100 lilin imlek sudah dipesan umat Tionghoa ke Vihara Dharma Ramsi, Bandung. Lilin-lilin tersebut  merupakan bentuk persembahan doa yang akan dinyalakan pada Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 17 Februari mendatang.   

Proses pembuatan lilin Imlek di Vihara Dharman Ramsi pun tidak sederhana. Proses panjang dilalui, sebelum dipajang dan dinyalakan. Mulai dari pembuatan, pencetakan, penempelan doa dan nama, serta penempatan dan penyalaan. 

Kwok Soei Tji (70), pengurus Vihara Dharma Ramsi, menyebut lilin-lilin Imlek itu sebagai simbol doa umat yang diwujudkan dalam cahaya.

“Lilin ini harapan,” katanya singkat, sambil memperhatikan hasil adukan yang mulai mengeras belum lama ini.

Pembuatan lilin besar Imlek di vihara Dharma Ramsi ini telah dimulai sejak Desember 2025. Lilin-lilin tersebut dipesan umat untuk digunakan pada perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Prosesnya tidak bisa dilakukan terburu-buru. Dari bahan mentah, lilin Imlek harus dicairkan terlebih dahulu agar mudah dibentuk, lalu dituangkan ke dalam cetakan tabung dengan berbagai ukuran sesuai pesanan.

“Setelah dicetak, langsung besok diangkat, nggak. Karena masih basah, dalamnya nggak padat,” ujar Kwok, mengingatkan bahwa kesabaran adalah bagian dari proses.

Lilin-lilin itu harus benar-benar kering dan padat sebelum diangkat dari cetakan. Setelahnya, doa dan harapan umat ditempelkan, lengkap dengan nama pemesan. Agar tetap terjaga, lilin Imlek kemudian dibungkus plastik, menunggu waktunya disusun di vihara.

Tahun ini, sekitar 100 pasang lilin Imlek dipesan umat. Nantinya, lilin-lilin tersebut akan disusun rapi, dimulai dari ukuran terkecil hingga paling besar, berjajar dengan jarak sekitar setengah meter. Pada malam pergantian tahun, tepat setelah doa bersama, masing-masing lilin akan dinyalakan oleh pemiliknya, biasanya menjelang tengah malam.

Bagi umat yang tak bisa hadir, pengurus vihara akan menyalakan lilin atas nama mereka. Di Vihara Dharma Ramsi, kehadiran fisik bukan satu-satunya ukuran pengharapan.

Bahkan, vihara membuka ruang bagi umat yang kurang mampu. Tidak ada paksaan soal ukuran atau biaya.

“Bilamana ada yang mau pasang lilin, yang kurang mampu, misalnya ada uang segini, kita welcome,” ujar Kwok.

Simbol Kehidupan dan Doa

Makna lilin  tidak terletak pada besar kecilnya ukuran, melainkan pada niat yang menyertainya. Lilin Imlek menjadi simbol kehidupan sepanjang tahun yang baru, permohonan akan kesehatan jasmani dan rohani, kelancaran rezeki, serta keharmonisan keluarga.

“Lilin sendiri itu untuk kehidupan. Setahun itu memohon. Memohon, ya istilahnya memohon bukakan rezeki, kesehatan jasmani dan rohani. Kerukunan keluarga, anak cucu, pada sehat semua,” tutur Kwok.

Di balik persiapan fisik, vihara juga menjalani rangkaian persiapan spiritual. Salah satunya adalah pembersihan altar dan arca dewa-dewi yang dilakukan setahun sekali. Tahun ini, kegiatan tersebut direncanakan berlangsung pada 12 Februari.

Pada hari itu, arca-arca dewa akan diturunkan dan dibersihkan dengan penuh kehati-hatian. Kwok menekankan, proses ini bukan sekadar membersihkan debu, melainkan juga membersihkan batin.

“Misalnya ada sesuatu yang harus diomongin yang jelek, jangan. Karena itu di harapan dewa. Jadi kita harus konsentrasi, harus bersih,” katanya.

“Tanggal 12, kita ada doa bersama. Dewa masuk semua. Masuk lagi, ke masing-masing punya rumah,” kata Kwok. Di antara aroma lilin hangat dan bunga cendana, Vihara Dharma Ramsi tak hanya menyiapkan perayaan Imlek. Di sana, harapan dicetak perlahan dengan kesabaran, niat, dan keyakinan bahwa cahaya kecil pun mampu menerangi perjalanan setahun ke depan. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *