Sampah yang dibuang sembarangan.
BANDUNG (LB)- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mengakselerasi, program kawasan bebas sampah (KBS) sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis pemilahan dari sumber.
Kepala DLH Kota Bandung, Darto menjelaskan, paradigma pengelolaan sampah kini telah bergeser. Warga tidak lagi didorong untuk sekadar membuang sampah, melainkan aktif mengelolanya sejak dari rumah.
“Kita tidak lagi mengenal konsep membuang sampah. Lebih dari 60 persen timbulan sampah di Kota Bandung berasal dari rumah tangga. Karena itu, jika dipilah sejak dari rumah. Pengelolaan akan jauh lebih efisien,” kata Darto, Senin (7/7).
Ia menilai, penurunan ritase angkutan sampah sebagai masalah serius. Untuk itu, solusi jangka panjang diarahkan ke hulu yakni dengan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam memilah sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya.
Salah satu pendekatan yang kini diandalkan, adalah program KBS yang menyasar pemukiman warga agar mampu secara mandiri mengelola sampah domestik. Hingga pertengahan 2025, tercatat sebanyak 481 titik KBS.
“Kami menargetkan 700 titik aktif hingga akhir tahun ini. Ini bukan hanya target kuantitas, tapi juga upaya membangun sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan,” ucapnya.
Menurut Darto, program KBS diklaim telah memberikan dampak positif dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pengolahan akhir. Pihaknya menyebut, keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Termasuk dalam menyampaikan keluhan atau informasi terkait persoalan sampah.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan warga sangat penting, terutama dalam memilah sampah dari rumah dan menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya. Pendekatan berbasis komunitas ini, diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah yang tidak hanya efektif secara teknis. Tetapi juga membentuk budaya baru dalam menjaga lingkungan kota,” ujar dia. *
