TEHERAN(LB)- Gelombang unjuk rasa di Iran yang dipicu oleh krisis ekonomi parah kini berubah menjadi bentrokan berdarah. Hingga Rabu (7/1), laporan dari kelompok hak asasi manusia menyebutkan sedikitnya 36 orang tewas dan lebih dari 1.200 orang ditangkap dalam aksi yang telah memasuki hari kesepuluh ini.
Eskalasi kekerasan mencapai titik kritis setelah pasukan keamanan dilaporkan menyerbu sebuah rumah sakit di Provinsi Ilam, wilayah barat Iran.
Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA), aparat menembakkan gas air mata ke dalam area medis dan menyeret paksa demonstran yang sedang dirawat. Tindakan represif ini memicu kecaman internasional karena dianggap melanggar hukum kemanusiaan.
“Ketika rezim menjadikan rumah sakit sebagai target operasi keamanan, itu bukan tanda kekuatan, melainkan kepanikan eksistensial,” ujar aktivis HAM setempat menanggapi insiden di Ilam.
Apa yang bermula dari mogok kerja pedagang di Grand Bazaar Teheran akibat jatuhnya nilai mata uang Rial, kini telah bermetamorfosis menjadi gerakan anti-pemerintah di lebih dari 78 kota dan 23 provinsi. Massa tidak hanya menuntut perbaikan ekonomi, tetapi juga meneriakkan slogan-slogan yang menargetkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Pemerintah Iran merespons dengan tangan besi. Khamenei dalam pidato terbarunya melabeli para demonstran sebagai “perusuh” dan memerintahkan aparat untuk bertindak tegas. “Tidak ada ampun bagi mereka yang merusak keamanan publik,” tegas pernyataan dari lembaga peradilan negara tersebut.
Situasi ini memancing reaksi keras dari dunia internasional. Presiden Amerika Serikat (AS) onald Trump mengeluarkan peringatan keras, menyatakan bahwa Washington “siap bertindak” jika Teheran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap warganya sendiri.
Sementara itu, PBB mendesak Iran untuk menahan diri dan segera menghentikan penggunaan peluru tajam terhadap pengunjuk rasa.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang berada dalam posisi sulit, telah memerintahkan penyelidikan atas insiden penyerbuan rumah sakit di Ilam, namun ia juga memperingatkan bahwa kerusuhan yang berkepanjangan hanya akan memperburuk inflasi yang kini telah melampaui 40%.
