Sinergi Polri dengan Budaya Banten Jadi Fondasi Kamtibmas. Polda Banten Tegaskan Komitmen Pelayanan Profesional, Humanis, dan Terpercaya
LEBAK (LB)- Delapan dekade pengabdian tanpa henti. Tahun 2026, Kepolisian Negara Republik Indonesia Polri memperingati 80 tahun Hari Bhayangkara. Dari ujung barat Pulau Jawa, tepatnya “Tanah Jawara” Banten, narasi pengabdian itu terasa paling hidup. Di tanah yang kental dengan silat, debus, dan semangat pendekar ini, Polri tidak hanya menegakkan hukum. Polri hadir merangkul budaya, menjaga tradisi, dan membangun kepercayaan masyarakat.
Perjalanan 80 tahun Bhayangkara di Banten adalah kisah transformasi. Dari masa revolusi fisik hingga era digital, dari keterbatasan hingga menjadi institusi yang modern dan profesional. Semuanya berawal dari semangat kemerdekaan yang sama: melindungi rakyat, mengayomi, dan melayani.
Sejarah Polri di Banten tak bisa dilepaskan dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, wilayah Keresidenan Banten segera berbenah. Institusi kepolisian di Kota Serang dan sekitarnya bertransformasi dari struktur kolonial menjadi bagian integral Djawatan Kepolisian Negara.
Tonggak penting terjadi ketika kepemimpinan nasional kepolisian dipegang R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo. Di bawah komandonya, kepolisian daerah diseragamkan dalam satu komando nasional. Pada 1946, fungsi kepolisian sempat melebur ke dalam Tentara Keamanan Rakyat TKR karena situasi perang mempertahankan kemerdekaan. Namun kebutuhan akan keamanan sipil membuat Djawatan Kepolisian Negara kembali berdiri sendiri.
Tanggal 1 Juli 1946 kemudian ditetapkan sebagai Hari Bhayangkara. Angka itu menandai lahirnya institusi yang mandiri, profesional, dan mengabdi langsung untuk rakyat. Sejak saat itu, Bhayangkara resmi menjadi nama panggilan bagi anggota Polri, diambil dari pasukan pengawal kerajaan Majapahit yang setia, disiplin, dan berani.

Kantor Polda Banten.
Dari Wilayah Binaan Menjadi Polda Tipe A
Sebelum tahun 2004, wilayah hukum Banten masih berada di bawah Polda Jawa Barat. Seiring pemekaran Provinsi Banten, kebutuhan akan kepolisian daerah mandiri menjadi mendesak. Pelayanan harus lebih cepat, lebih dekat, dan lebih memahami karakteristik masyarakat Banten.
Peletakan batu pertama Markas Komando Mako Polda Banten dilakukan pada 14 Juli 2003. Lokasinya dipilih di Jalan Syech Nawawi Al Bantani, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang. Nama jalan itu menyimpan makna. Syech Nawawi Al Bantani adalah ulama besar Banten yang karyanya mendunia. Pemilihan lokasi menjadi simbol: kepolisian Banten lahir dari rahim budaya dan keilmuan
Tahun 2004, Polda Banten resmi berdiri sebagai instansi mandiri. Pada awal pembentukannya, statusnya masih Polda Tipe B. Desember 2018, berdasarkan keputusan Kapolri, Polda Banten resmi ditingkatkan menjadi Polda Tipe A.
Perubahan status ini membawa konsekuensi besar. Pimpinan Polda Banten sejak saat itu dijabat perwira tinggi berpangkat Inspektur Jenderal Polisi Irjen Pol. Struktur organisasi diperkuat, personel ditambah, sarana prasarana ditingkatkan. Tujuannya satu: memberikan pelayanan terbaik untuk 3 juta lebih penduduk Banten.
Banten dikenal sebagai “Tanah Jawara”. Julukan itu lahir dari kultur persilatan, ilmu kanuragan, dan kesenian debus yang mengakar kuat. Jawara bukan hanya pendekar silat. Mereka adalah tokoh masyarakat, pelindung kampung, dan penjaga nilai. Menghadapi budaya sekuat ini, pendekatan represif tidak akan berhasil. Polri memilih jalan lain: sinergi kultural.
Sejak awal bertugas di Banten, para pimpinan Polri rutin melakukan silaturahmi dengan para pendekar dan ulama. Forum diskusi, doa bersama, hingga unjuk kebolehan debus menjadi jembatan komunikasi.
Pesannya jelas: Polri dan jawara memiliki tujuan sama, menjaga Kamtibmas.
Kedekatan itu terbukti nyata. Para jawara Banten kerap menyatakan dukungan penuh kepada Polri. Mereka menjadi garda terdepan menolak aksi anarkis, radikalisme, dan segala bentuk gangguan yang mengancam kebhinekaan.
Bukti paling simbolis terjadi November 2020. Ratusan jawara dari berbagai padepokan di Banten sengaja mendatangi Markas Polda Metro Jaya di Jakarta. Mereka menggelar silaturahmi, menampilkan atraksi debus, dan menyampaikan pernyataan sikap: mendukung Polri menjaga NKRI dan ketertiban umum.
Hubungan erat ini tercermin dari jejak sejarah institusi. Banyak perwira tinggi memiliki kedekatan dengan Banten, salah satunya mantan Kapolda Banten yang kini menjabat Kapolri, Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo. Tokoh jawara setempat mengenal rekam jejak beliau menjembatani kultur masyarakat dan menjaga kondusivitas.
Ada fenomena menarik dalam sejarah Polri. Banyak perwira tinggi yang kariernya melesat setelah bertugas di Banten. Wilayah ini dianggap strategis dan dinamis.
Berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, memiliki pelabuhan internasional, kawasan industri, serta keragaman sosial yang tinggi.
Selain Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, ada Komjen Pol. Rudy Heriyanto, Irjen Pol. Suyudi Ario Seto, hingga Jenderal Pol. Timur Pradopo. Mereka semua pernah mengabdi di bumi jawara sebelum mengemban tugas di level nasional. Karena itu, banyak yang menyebut Banten sebagai “sekolah kepemimpinan” bagi calon-calon pemimpin Polri masa depan.
Angka 80 tahun bukan angka biasa. Ia melambangkan kematangan, pengalaman panjang, dan proses belajar yang tak pernah berhenti. Makna 80 tahun Bhayangkara mengabdi adalah peringatan atas dedikasi Polri dalam melayani masyarakat sejak 1946 hingga 2026.
Komitmen itu ditegaskan lewat tema HUT Bhayangkara ke-79 “Polri untuk Masyarakat”. Tema ini menegaskan Polri ada untuk rakyat. Transformasi itu diwujudkan Polda Banten lewat pelayanan SKCK dan SIM yang lebih cepat, patroli siber, Bhabinkamtibmas sampai desa, serta program Polisi RW dan Jumat Curhat.
Memasuki usia 80 tahun, tantangan Polri semakin kompleks: kejahatan siber, narkotika jaringan internasional, radikalisme digital, serta dinamika industri dan urbanisasi di Banten. Namun Polda Banten optimis.
“Kekuatan Polri di Banten bukan hanya pada seragam dan senjata. Kekuatan kami ada pada kepercayaan masyarakat”.
Ke depan, Polda Banten menargetkan tiga hal: pelayanan publik yang semakin mudah dan cepat, penegakan hukum yang berkeadilan, serta pemeliharaan Kamtibmas yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Visi besarnya mewujudkan Polri yang Presisi: Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan.
Dari Jawara Untuk Indonesia
Delapan puluh tahun adalah perjalanan panjang. Dari Serang ke Sabang, dari Merauke ke Miangas, Bhayangkara terus mengabdi. Dan dari Tanah Jawara, kisah itu mendapat warna khusus: warna budaya, warna kebersamaan, warna sinergi.
Peringatan 80 tahun Bhayangkara tahun ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah momentum untuk menengok ke belakang, menghargai jasa para pendahulu, dan meneguhkan komitmen ke depan.
Dari tanah yang melahirkan pendekar-pendekar pemberani, Polri belajar tentang keberanian. Dari ulama-ulama besar, Polri belajar tentang kebijaksanaan. Dari masyarakat Banten, Polri belajar tentang kepercayaan
Dari Tanah Jawara untuk Indonesia, Bhayangkara mengabdi. Mengabdi dengan hati, mengabdi dengan profesional, mengabdi untuk Indonesia yang aman, damai, dan maju. *
Dirgahayu Bhayangkara ke-80. Polri untuk Masyarakat
Daftar Nara Sumber:
Naskah Utama: Sejarah awal Polri Banten, Proklamasi 1945, R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo, TKR 1946, 1 Juli Hari Bhayangkara, berdirinya Polda Banten 2004, peletakan batu pertama 14 Juli 2003, Jl. Syech Nawawi Al Bantani, Tipe B → Tipe A Des 2018, Irjen Pol, makna 80 tahun, program pelayanan, tantangan ke depan, visi Presisi, kutipan pejabat Polda Banten.
Naskah Sinergi Budaya: “Tanah Jawara”, kultur silat-debus-kanuragan, pendekatan kultural silaturahmi, jawara tolak anarkis, aksi jawara ke Polda Metro Jaya Nov 2020, Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo mantan Kapolda Banten.
Naskah Tema & Karier: Banten wilayah strategis, perwira karier melesat jadi jenderal, nama: Listyo Sigit Prabowo, Rudy Heriyanto, Suyudi Ario Seto, Timur Pradopo, Tema HUT ke-79 “Polri untuk Masyarakat”.
