Dampak Banjir Bandang, Krisis Air Bersih di Padang Meluas, BPBD Mulai Kewalahan

Antrean pengisian air bersih di Kuranji, Kota Padang melalui mobil tangki air BPBD akibat kekeringan melanda daerah tersebut, Selasa (27/1).

PADANG (LB)- Dampak bencana banjir bandang dan cuaca ekstrem di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) semakin mengkhawatirkan. Hingga Selasa (27/1), krisis air bersih atau kekeringan dilaporkan terus meluas ke wilayah baru. Awalnya, kekeringan hanya melanda Kecamatan Kuranji dan Pauh yang notabene daerah terdampak bencana banjir bandang. Hal ini dipicu oleh gangguan sumber air di Gunuang Nago dan Sungai Batang Kuranji yang rusak akibat banjir bandang pada November 2025 lalu.

Kondisi ini diperparah oleh cuaca panas ekstrem dalam beberapa pekan terakhir, yang menyebabkan sumur galian warga dan sungai-sungai primer mengering total.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengungkapkan bahwa saat ini laporan kekeringan telah merambah ke dua wilayah baru, Kecamatan Koto Tangah dan Kecamatan Padang Selatan. “Kejadian ini sudah berlangsung selama satu bulan. Masyarakat kini sangat bergantung pada distribusi air dari pemerintah karena sumur mereka kering,” ujar Hendri, Selasa (27/1).

Sejak November 2025, pemerintah melalui BPBD, PMI, Damkar, dan Dinas PU telah menyalurkan sebanyak 2,6 juta kubik air bersih. Pendistribusian dilakukan dari pagi hingga malam hari dengan rata-rata 30 kali ritase, melalui 15 unit mobil tangki setiap harinya, dengan muatan 100 kubik air per hari.

Meluasnya daerah kekeringan, menurut Hendri akan membuat pihaknya kewalahan dalam melakukan distribusi air karena keterbatasan armada (mobil tangki air).

Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Barat menyatakan cuaca panas masih akan terjadi hingga awal Februari 2026, sehingga ada kemungkinan penambahan daerah kekeringan jika tidak ada hujan merata di Kota Padang.

Situasi ini menurut Hendri akan berdampak pada masyarakat yang biasanya bisa menerima distribusi air dua kali sehari, menjadi satu kali sehari atau satu kali dua hari. “Air adalah kebutuhan pokok. Kami khawatir jika cakupan terus meluas, distribusi ke masyarakat tidak bisa maksimal seperti biasanya,” tutur Hendri. Dampak kekeringan ini juga bisa melanda sumber air yang selama ini menjadi pemasok kebutuhan air masyarakat yang digunakan oleh pemerintah. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *