BPH Migas Dorong Penggunaan Gas Bumi

JAKARTA – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) terus mendorong penggunaan gas bumi dalam rangka memperkuat ketahanan energi nasional.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan, pemanfaatan gas bumi sebagai energi bersih, yang ramah lingkungan dan lebih efisien akan menggerakkan ekonomi masyarakat.

“BPH Migas berharap perluasan jaringan gas dan pemanfaatan compressed natural gas (CNG) dari rumah tangga hingga UMKM akan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan pada liquified petroleum gas (LPG),” kata Wahyudi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (15/2).

Wahyudi menegaskan, BPH Migas memiliki rekam jejak kuat dalam pengaturan dan pengawasan pengangkutan gas bumi melalui pipa.

Di sisi lain, penguatan tata kelola niaga gas bumi terus dilakukan agar distribusi dan pelayanan kian transparan, akuntabel, serta tepat sasaran.

“Kehadiran kami di wilayah PGN Sales and Operation Region (SOR) 1 merupakan langkah nyata dalam rangka mitigasi proses bisnis PGN terutama wilayah SOR 1, guna memastikan seluruh operasional berjalan sesuai regulasi, transparan, dan akuntabel demi menjamin keberlanjutan pasokan energi nasional,” ungkap Wahyudi saat mengunjungi pelanggan jargas di wilayah SOR I PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Medan, Sumatera Utara, Jumat (13/2).

Area layanan PGN SOR I mencakup Dumai, Pekanbaru, Medan, Batam, Palembang, dan Lampung.

Hingga Januari 2026, penyaluran gas bumi mencapai 140,46 billion british thermal unit per day (BBTUD).

Di area Medan 1, sumber pasokan gas bumi antara lain berasal dari PT Pertamina Hulu Energi, PT Pema Global Energi, dan PT Pertamina Perta Arun Gas, dengan kombinasi penyaluran gas bumi melalui pipa dan dimanfaatkan untuk moda CNG.

Di sektor masyarakat, pelanggan jaringan gas bumi jargas di wilayah SOR 1 telah mencapai 134.198 pelanggan.

Penggunaan moda CNG juga menopang keberlangsungan sektor usaha kecil dan menengah.

“Pemanfaatan moda CNG ini terbukti jauh lebih efisien, dengan penghematan mencapai 30 hingga 35 persen. Sebagai contoh nyata, salah satu UMKM Nasi Kebuli di Kota Medan, mampu menekan biaya operasional gasnya hingga Rp9 juta per bulan dari sebelumnya menghabiskan Rp35-Rp36 juta saat menggunakan LPG nonsubsidi, kini hanya menjadi Rp26 juta setelah beralih ke CNG,” ujarnya saat mengunjungi salah satu UMKM tersebut.

Dalam kunjungan lapangan ini, turut dihadiri Anggota Komite BPH Migas Baskara Agung Wibawa, Division Head Regional SOR I Agus Muhammad Mirza, dan Head of Sales Gas CNG PT Gagas Energi Indonesia Area Medan Muhammad Fikri Aziz Adnan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *