Vinicius Jr memeluk Jude Bellingham usai mencetak gol ke gawang Barcelona.
MADRID – Real Madrid memenangi laga El Clasico setelah mengalahkan Barcelona dengan skor 2-1 pada pekan ke-10 Liga Spanyol di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, Minggu (26/10) malam WIB.
Dua gol Real Madrid hadir berkat aksi Kylian Mbappe (27) dan Jude Bellingham (43), sedangkan Barcelona sempat menyamakan kedudukan melalui Fermin Lopez (38).
Barcelona sebenarnya unggul penguasaan bola dengan 68 persen, akan tetapi Real Madrid lebih sering memberikan ancaman dengan 23 tendangan yang 10 di antaranya tepat sasaran.
Berkat kemenangan ini Real Madrid semakin kokoh di puncak klasemen sementara Liga Spanyol dengan 27 poin dari 10 pertandingan, unggul lima poin dari Barcelona di posisi kedua.
Barca harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-90+10 setelah Pedri diusir keluar oleh wasit karena kartu kuning kedua yang ia terima setelah melakukan pelanggaran keras kepada Aurelien Tchouameni.
Pelatih Madrid Xabi Alonso mengaku bangga melihat determinasi para pemainnya sepanjang pertandingan. Para pemain tampil sangat termotivasi dan memahami pentingnya pertandingan ini. Alonso menilai kemenangan itu menunjukkan kesiapan mental dan semangat kolektif skuadnya.
“Tim sangat termotivasi. Saya sangat senang untuk para pemain karena mereka butuh merasakan kemenangan di laga besar seperti El Clasico. Motivasinya total. Ini bukan hanya tiga poin, tapi kemenangan yang punya arti lebih,” kata Alonso di situs resmi klub.
Ia menilai kemenangan menjadi langkah penting dalam perjalanan panjang Real Madrid musim ini. Selain itu hasil ini memiliki makna mendalam bagi timnya. Ia menilai laga tersebut bukan sekadar soal raihan angka, melainkan juga momentum untuk memperkuat rasa percaya diri dan arah permainan tim
” Sebelum pertandingan, kami sudah membicarakan betapa pentingnya laga ini, bukan hanya untuk meraih tiga poin tetapi juga untuk mengetahui dari mana kami berasal dan apa yang ingin kami capai,” ujarnya.
Usai laga pemain Madrid ramai-ramai ‘menyerang’ Yamal. Dani Carvajal, Vinicius Junior dan Thibaut Courtois sempat mendatangi pemain berusia 18 tahun itu. Carvajal dan Vinicius terlihat membuat gesture bicara ke Yamal. Pemain Barcelona lainnya kemudian langsung melindungi Yamal dan membawanya masuk ke lorong.
Insiden itu terkait dengan komentar Yamal menjelang laga yang menyebut sang rival kerap ‘mencuri’.
Alonso tidak ambil pusing mengenai kisruh usai wasit Cesar Soto meniup peluit panjang. Perseteruan besar antara kedua kubu sudah lama tidak terjadi sejak 2011.
“Tidak perlu terlalu khawatir atas benturan yang sehat, penuh rasa hormat dan wajar. Itu hanya ketegangan dari laga penting dengan skor yang ketat. Kami tidak banyak punya peluang, dan saya rasa ini hal yang sangat normal. Jangan terlalu membesar-besarkan momen ketegangan seperti itu. Segala macam hal sudah terjadi di El Clasico, dan kami punya pertandingan lain Sabtu (1/11) nanti,” tandas Alonso.
Jude Bellingham menyindir pedas Lamine Yamal. Ia menulis ‘Bicara itu murah. Hala Madrid,” tulis gelandang Inggris dalam caption unggahan Instagramnya.
Di sisi lain pelatih Barca Hansi Flick tidak berada di pinggir lapangan karena sedang menjalani skorsing. Ia diganti oleh sang asisten Marcus Sorg. Ia berbicara panjang lebar tentang Yamal, yang menjadi pusat perhatian pertandingan.
“Hari ini bukan hari yang mudah bagi Lamine. Kami berdiskusi saat jeda babak pertama tentang perlunya menempatkannya dalam lebih banyak situasi satu lawan satu, tetapi di babak pertama, kami tidak memberinya banyak situasi seperti itu, dan hal yang sama terjadi di babak kedua. Mereka (Madrid) bertahan dengan baik, dan kami harus mengakui itu, tetapi saya pikir dia mencoba segalanya, dan terkadang para pemain bertahan bermain dengan baik, dan kami juga harus mengakui itu,” ujar Sorg dikutip dari Mundo Deportivo.
Di laga itu, Yamal memang tak banyak melakukan tusukan-tusukan, dengan Barca pada prosesnya lebih banyak mencoba lewat Marcus Rashford di kiri. Yamal hanya melakukan dua tembakan tanpa mengarah ke gawang dan empat dribel sukses dari delapan percobaan. Ferran Torres yang bermain sebagai false nine juga tak banyak berkontribusi.
“Kami melakukan lebih banyak kesalahan ketimbang biasanya, kami sudah mencoba segalanya tapi tidak menciptakan peluang apa pun. Di sepertiga akhir lapangan, kami kekurangan kekuatan untuk melakukan penetrasi dan menciptakan ancaman. Kami mencoba segalanya, mengakhiri laga dengan hanya dua bek untuk menciptakan lebih banyak peluang meski kami tahu Madrid sangat bagus dalam serangan balik. Tapi kami tidak menciptakan cukup banyak peluang,” ujar Sorg.***
