Selebrasi pemain AS Roma usai Evan Ferguson mencetak gol ke gawang Lecce.
LECCE – AS Roma kembali ke jalur kemenangan setelah menekuk Lecce dengan skor 2-0 pada pertandingan pekan ke-19 Liga Italia di Stadion Via del Mare, Lecce, Selasa (6/1) waktu setempat.
AS Roma berhasil mengemas kemenangan atas Lecce berkat gol yang dicetak Evan Ferguson dan Artem Dovbyk, demikian catatan Serie A.
Berkat kemenangan ini AS Roma menempati peringkat keempat klasemen sementara Liga Italia dengan 36 poin dari 19 pertandingan, terpaut tiga poin dari posisi pertama Inter Milan.
Di sisi lain, kekalahan membuat Lecce masih tertahan di posisi ke-16 klasemen sementara Liga Italia dengan 17 poin dari 18 pertandingan, unggul lima poin dari zona degradasi.
Di laga itu Roma langsung memperagakan permainan menyerang pada pertandingan ini dan mampu unggul pada menit ke-14 melalui gol Evan Ferguson setelah bekerja sama dengan Paulo Dybala sehingga skor berubah menjadi 1-0.
Selanjutnya Roma sempat kembali membobol gawang dari Lecce melalui upaya Niccolo Pisilli, namun tidak disahkan wasit karena ia adanya offside.
Roma berhasil menggandakan keunggulan mereka menjadi 2-0 pada menit ke-71 setelah Artem Dovbyk sukses membobol gawang dari Lecce setelah melewati lini pertahan tim tuan rumah.
Di tengah tiga poin krusial yang diraih, pelatih AS Roma Gian Piero Gasperini memilih membungkam diri. Tidak ada konferensi pers, tidak ada komentar pascalaga—hanya keheningan yang lebih keras dari selebrasi kemenangan.
Kemenangan ini juga memperpanjang catatan positif setelah dua kemenangan beruntun musim lalu atas lawan yang sama: 4-1 di Olimpico dan 1-0 di Lecce pada Maret.
Di balik data tersebut, kemenangan ini punya arti tersendiri karena Roma akhirnya mematahkan rekor buruk tandang yang mencoreng performa mereka sejak akhir November.
Sebelum laga ini, Roma kalah di tiga partai tandang berturut-turut—versus Cagliari, Juventus, dan Atalanta. Mereka juga melanglang buana selama 44 hari tanpa mampu mencetak gol di luar Olimpico.
Bagi Gasperini, kemenangan ini juga menandai pencapaian pribadi, rekor 1.000 poin sebagai pelatih di Serie A. Namun, di balik milestone tersebut, badai masih menggelayut di Trigoria.
Menurut laporan Sky Sport, Gasperini menolak tampil di televisi maupun media cetak bukan karena ingin meredam perang psikologis, tetapi karena marah soal bursa transfer Januari.
Dalam beberapa pekan terakhir, ia terang-terangan meminta tambahan amunisi, terutama penyerang. Keluhan itu berulang, skuad dianggap terlalu tipis dan minim opsi ofensif. Tetapi sejauh ini, klub hanya mendiskusikan nama, bukan mendatangkan pemain. Hingga kini, tak satu pun target baru terlihat di markas latihan Roma.
Direktur olahraga Ricky Massara tengah memburu Giacomo Raspadori dan Joshua Zirkzee, tetapi negosiasi berjalan lambat. Sementara itu, tekanan makin berat: rentetan kekalahan, kontroversi pascaduel dengan Atalanta dan Gasperini disebut memilih diam agar tidak meledak di depan kamera.
Evan Ferguson menyebut kunci kemenangan timnya, karenaa mengikuti instruksi pelatih. “Kami menjalankan apa yang diminta pelatih. Kami harus menang setelah kalah di laga sebelumnya. Kami berhasil melakukannya, jadi kami sangat senang,” ujar Ferguson dikutip dari laman resmi AS Roma.
Pesepak bola pinjaman dari klub Liga Inggris Brighton and Hove Albion itu melanjutkan, Roma tidak memiliki banyak waktu persiapan setelah takluk 0-1 dari Atalanta, Minggu (4/1).
Hanya mempunyai dua hari penuh untuk memulihkan diri dan menyusun strategi, Ferguson mengatakan bahwa timnya mengandalkan analisis video dan arahan dari sang pelatih Gian Piero Gasperini untuk menundukkan lawan.
Saat bersua Lecce, pemain berkebangsaan Irlandia itu dipasang sejak menit awal Gasperini. Hasilnya, Ferguson mencetak satu gol serta mendapatkan gelar pemain terbaik.
Pria berusia 21 tahun itu pun bersyukur bisa mendapatkan menit bermain. Bagi dia hal itu penting untuk menaikkan kepercayaan diri dan meningkatkan kemampuan sebagai seorang striker. “Aspek-aspek itu penting bagi seorang penyerang,” tutur Ferguson.
Gelandang muda Roma Niccolo Pisilli juga puas dengan penampilan perdananya. Pisilli tidak diganti sepanjang laga, tetapi dia menolak besar kepala. Pemain berusia 21 tahun itu menilai masih banyak hal yang harus ditingkatkan dari dirinya. “Saya semestinya bisa bermain lebih baik,” ujarnya.***
