Saluran Irigasi Longsor di Hulu Kuningan, 4.500 Hektare Lahan Pertanian Kab. Cirebon Terdampak

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro meninjau langsung lokasi paling darurat di daerah hilir yakni Desa Gebang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon.

CIREBON (LB)- Longsornya saluran irigasi di wilayah hulu di Kuningan mengancam pasokan air ke lahan pertanian warga di Kabupaten Cirebon. Kejadian ini berdampak  pada aliran air yang biasanya mengairi sawah-sawah di kawasan Kabupaten Cirebon.Tercatat, sekitar 4.500 hektare lahan pertanian di Kabupaten Cirebon terdampak kekeringan akibat musibah longsor tersebut.  Beberapa kecamatan di Kabupaten Cirebon yaitu Waled, Ciledug, Pabuaran, Babakan, Pabedilan, Gebang, Losari, terkena imbasnya.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro meninjau langsung lokasi paling darurat di daerah hilir yakni Desa Gebang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon. Ia menyampaikan, pihaknya telah bergerak cepat melakukan perbaikan dan mitigasi agar kerugian petani tidak meluas.

Menurut Dwi, longsor terjadi karena derasnya aliran air dari limpasan hujan yang masuk ke dalam cross drain peninggalan zaman Belanda. Volume air yang besar membuat saluran tidak mampu menampung, hingga akhirnya menyebabkan longsor pada struktur saluran.

“Ini sudah kami tangani dan sedang dalam proses pengecoran. Setelah dicor, dibutuhkan waktu sekitar tujuh hari untuk kering dan siap dialiri air kembali. Jadi, perkiraan air bisa kembali mengalir sekitar tanggal 8 atau 9 Mei,” ujarnya, Kamis (1/5).

Namun lanjutnya, meski perbaikan fisik tengah berlangsung, BBWS tidak tinggal diam. Pihaknya bekerja sama dengan Dinas Pertanian setempat untuk melakukan langkah-langkah strategis guna menyelamatkan lahan pertanian yang terancam kekeringan. Slah satunya, menyiapkan pompa untuk mengalirkan air dari sungai ke sawah-sawah yang masih bisa dijangkau.

“Sementara untuk daerah yang jauh dari sungai, kami lakukan pengeboran air tanah. Satu lokasi sudah kami laksanakan pemboran, dan berikutnya akan menyusul lokasi kedua,” jelasnya.

Langkah darurat ini disebut sebagai pertolongan pertama bagi petani, khususnya yang sawahnya sudah dalam tahap pembenihan atau penanaman. BBWS dan Dinas Pertanian sepakat untuk memprioritaskan sawah-sawah tersebut agar tanaman tidak mati kekeringan.

“Yang kami prioritaskan adalah sawah yang sudah dibenihi dan ditanami. Ini demi menyelamatkan lahan pertanian,” ucapnya.

Pihak BBWS menyadari bahwa kapasitas air dari sumur bor (pantek) memang tidak maksimal untuk menyuplai seluruh lahan sawah. Namun, langkah ini dinilai penting untuk mencegah gagal panen massal, terutama di musim tanam yang sedang berlangsung saat ini.

“Kami berharap, dalam dua minggu ke depan, kondisi bisa mulai normal kembali. Tapi selama masa itu, kami akan terus memantau dan melakukan langkah-langkah darurat yang diperlukan,” aku Dwi Agus Kuncoro.

Sementara itu, Kepala Bidang Pertanian Kabupaten Cirebon, Samsina menambahkan, ada sekitar 4.500 hektare lahan pertanian di Kabupaten Cirebon yang terdampak musibah tersebut.

“4500 hektar dari tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Waled, Pabuaran, Babakan, Ciledug, Pabedilan, Gebang, Losari,” tukasnya. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *