Ilustrasi hujan es.
PALEMBANG (LB)- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa wilayah Sumatera Selatan akan mengalami masa pancaroba pada Mei 2025. Cuaca ekstrem, termasuk hujan deras, angin kencang, puting beliung, dan bahkan hujan es, diperkirakan akan melanda daerah tersebut.
Koordinator BMKG Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa bulan Mei menandai pengujung musim hujan dan secara bertahap wilayah ini akan memasuki musim kemarau yang diperkirakan berlangsung mulai Juni 2025.
“Saat ini, wilayah Sumsel sedang berada dalam masa pancaroba, yaitu masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau,” ungkap Wandayantolis dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (1/5).
Wandayantolis menambahkan bahwa curah hujan pada dasarian III April 2025 menunjukkan variasi yang signifikan. Di beberapa wilayah, curah hujan berada dalam kategori menengah dengan intensitas 51-150 mm, sedangkan di Kabupaten Lahat, Muara Enim bagian barat, dan OKU Selatan bagian utara, curah hujan masuk dalam kategori tinggi dengan intensitas 151-300 mm.
Sementara itu, kategori rendah di bawah 50 mm terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin bagian selatan, Kota Palembang, Ogan Ilir, Prabumulih, sebagian Muara Enim, OKI bagian selatan, OKU Timur, OKU bagian timur, OKU Selatan bagian barat, serta beberapa wilayah lainnya. “Fase pancaroba biasanya diikuti dengan peningkatan suhu udara harian. Ini adalah puncak suhu udara maksimum pertama dalam setahun, dengan puncak kedua terjadi sekitar akhir September hingga Oktober,” ujarnya.
Peningkatan suhu ini terkait dengan pelepasan panas dari daratan dan lautan setelah matahari bergerak semu melintasi wilayah Sumsel.
Selama fase pancaroba, jeda hari tanpa hujan (HTH) dapat berlangsung antara tiga hingga enam hari. Ketika HTH terjadi, suhu udara akan terasa lebih menyengat, akibat akumulasi pelepasan panas yang disebabkan oleh turunnya kelembaban udara dan minimnya pembentukan awan yang biasanya melindungi dari radiasi matahari langsung.
“Pola cuaca pada masa pancaroba juga cenderung berubah dengan cepat.”
“Pemanasan intensif pada pagi hari bisa memicu pembentukan sistem konvektif kuat di siang hingga sore hari, yang dapat menyebabkan hujan deras berdurasi singkat, angin kencang, puting beliung, bahkan hujan es,” tambah Wandayantolis.
BMKG mengimbau masyarakat di Sumatera Selatan untuk waspada dan mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari. “Waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat mendadak dan angin kencang, khususnya pada siang hingga sore hari.” “Lindungi barang dan bangunan ringan, serta hindari berlindung di bawah pohon saat angin kencang atau badai,” tutupnya. *
