Indonesia Targetkan Jadi Pengekspor Utama Produk Hilir Kelapa Global

Ilustrasi hilir kelapa.

JAKARTA – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan Indonesia menargetkan menjadi pengekspor utama produk hilir kelapa di pasar global melalui penguatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas tersebut.

“Tidak hanya mencapai net export, tetapi juga kita menjadi pengekspor utama produk berbasis kelapa dengan industri turunannya sampai ke hilir, sehingga kita bisa mendapatkan nilai tambah setinggi-tingginya,” kata Rachmat dalam webinar bertajuk Hilirisasi, Ungkit Nilai Tambah dan Daya Saing Kelapa Nasional di Jakarta, Rabu (22/7).

Menurut dia, hilirisasi kelapa merupakan bagian dari agenda transformasi ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.

Untuk mendukung implementasinya, ia mengatakan Bappenas telah menyusun Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045.

Dalam dokumen RPJPN tersebut, kelapa ditetapkan sebagai salah satu komoditas strategis nasional yang diharapkan menjadi penopang struktur industri nasional, katanya menjelaskan.

Rachmat  menjelaskan strategi pengembangan industri kelapa diarahkan melalui pengembangan ekosistem industrialisasi yang didukung pembiayaan, riset, inovasi, standardisasi, serta skema insentif.

Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat sumber daya manusia, sumber energi, dan rantai pasok guna meningkatkan daya saing industri kelapa di pasar global.

Dalam jangka menengah, lanjutnya, hilirisasi akan difokuskan pada peningkatan produktivitas, diversifikasi produk, serta peningkatan utilisasi industri kelapa yang berkelanjutan.

Rachmat menilai langkah tersebut penting mengingat Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar kedua di dunia setelah Filipina, sementara permintaan produk berbasis kelapa diperkirakan terus meningkat, baik untuk kebutuhan pangan, minuman, kesehatan, kosmetik, tekstil, maupun bahan bakar.

Berdasarkan data yang dihimpun Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS), dan International Coconut Community (ICC), produksi kelapa nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 15 miliar butir atau sekitar 23 persen dari produksi global, sehingga menempatkan Indonesia sebagai produsen kelapa terbesar kedua di dunia.

Data HIPKI juga menunjukkan nilai ekspor industri kelapa Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 2,48 miliar dolar AS.

Dari total produksi nasional, sekitar 9 miliar butir atau 60 persen diserap industri pengolahan menjadi berbagai produk turunan seperti kopra, desiccated coconut, dan santan.

Sementara sekitar 4 miliar butir atau 26,7 persen produksi nasional masih diekspor dalam bentuk kelapa bulat (raw).

Di sisi lain,  Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng Badan Pengelola Investasi Danantara untuk membangun industri hilir kelapa terpadu di sejumlah daerah sebagai upaya memperkuat nilai tambah komoditas tersebut sekaligus meningkatkan penyerapan bahan baku di dalam negeri.

Pengawas Mutu Hasil Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Agus Rosyid mengatakan Danantara saat ini telah melakukan survei di sejumlah lokasi yang berpotensi menjadi kawasan pembangunan industri hilir kelapa terpadu.

“Alhamdulillah PTPN juga sudah mulai bekerja keras di Jawa Timur membangun kebun inti kelapa dan akan merambah ke plasma. Danantara juga sudah survei beberapa lokasi untuk membangun industri hilir terpadu ini,” kata Agus dalam webinar yang sama.

Menurut dia, pembangunan industri tersebut akan diprioritaskan di daerah yang memiliki ketersediaan bahan baku kelapa melimpah, tetapi belum didukung kapasitas industri pengolahan yang memadai.

Ia menegaskan pembangunan industri hilir tersebut tidak dimaksudkan untuk bersaing dengan pelaku industri pengolahan kelapa yang telah beroperasi, melainkan mengisi wilayah yang selama ini belum memiliki daya serap industri yang optimal. “Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku. Beberapa tahun lalu sempat ada perusahaan yang mengalami kekurangan bahan baku,” ucapnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *