Messi Cemerlang, Argentina ke Babak 32 Besar

Momen ketika Lionel Messi mau mencetak gol ke gawang Austria.

TEXAS  – Argentina mengalahkan Austria 2-0 pada laga kedua  Grup J yang digelar di AT&T Stadium, Arlington, Texas, Selasa (23/6) dini hari WIB. Brace bersejarah Lionel Messi memenangkan Albiceleste.

Messi sempat gagal mengeksekusi penalti. Sepakan 12 pasnya melenceng. Namun,  ia menembusnya di menit ke-39. Gol itu bersejarah bagi Messi, sebab ia kini resmi jadi top skor Piala Dunia dengan total 17 gol, melewati rekor Miroslav Klose (16 gol). Di babak kedua, Messi bisa menambah gol di menit akhir.

Hasil ini membawa Argentina memimpin Grup J dengan 6 poin dan lolos ke babak 32 besar. Austria ada di urutan kedua  dengan 3 poin. Aljazair yang mengalahkan Jordania 2-1, berada di urutan ketiga juga dengan tiga poin, hanya kalah perbandingan gol dengan Austria. Jordania ada di posisi buncit msih nirpoin.

Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengakui gol kedua Messi menenangkan timnya. “Laga memang rumit. Kami mendapat ketenangan pikiran yang kami butuhkan jelang akhir. Saya sangat senang dengan performa Leo, dia mencetak gol lagi ketika kami menderita,” ujar Scaloni seperti dilansir Reuters.

Ia mengaku Austria memberikan perlawanan sengit kepada Argentina. “Tim menderita di laga ini, mereka menyulitkan dan kami tidak memegang bola. Kami tahu bagaimana caranya menderita dan itu adalah hal yang pantas dipuji sebagai tim. Tim tahu bagaimana bersikap di sepanjang waktu. Ini adalah lawan yang punya pemain-pemain sangat tinggi, itu jadi tantangan. Tidak ada yang berpikir ini akan mudah. Dua pertandingan yang kami mainkan sejauh ini rumit,” kata Scaloni.

Scaloni menjelaskan jika kegagalan Messi mengeksekusi tendangan penalti di awal babak pertama sempat mempengaruhi Argentina. Meskipun begitu, dirinya senang Messi dapat bangkit dan menunjukkan semangat yang sangat berpengaruh kepada rekan-rekannya di lapangan.

“Wajar kalau gagal mencetak gol dari titik penalti itu mengecewakan, tapi tahu bahwa saat Leo mulai bersemangat, ketika dia bersemangat, semua orang juga ikut bersemangat. Dan saya pikir itu juga merupakan kekuatan tim. Bahkan ketika tim kesulitan menguasai bola, dia tetap bekerja keras dan berhasil mencetak gol. Anda bisa melihat komitmennya,” tutur Scaloni.

Messi sendiri mengaku sangat kesal karena tendangan penaltinya dinilai jelek. Pelanggaran kepada Lautaro Martinez membuat wasit menunjuk titik putih. Sepakan Messi malah melenceng. Messi cuma bisa garuk-garuk kepala, dan tersenyum keheranan.

“Gol-gol yang saya cetak tercipta dengan cara yang spektakuler. Sayang sekali soal penalti yang saya gagal eksekusi itu. Kami tidak pernah tahu apa yang bisa saja terjadi. Kami senang dengan hasil ini dan dengan apa yang telah kami raih sebagai tim. Saya kesal karena gagal mengeksekusi penalti itu. Tendangan saya sangat jelek, tapi kami berhasil membalikkan keadaan. Kami akan berusaha melanjutkan ritme ini, ke arah yang sama. Ini langkah demi langkah. Ini adalah perjalanan yang panjang dan sulit. Saya menikmati setiap momen di lapangan,”  kata Messi dikutip dari Athletic.

Gagal penalti itu menjadi yang ketiga ditelan Messi di Piala Dunia. Sebelumnya ia sempat bernasib apes serupa pada edisi Piala Dunia 2018 dan 2022.

Pada 2016, Messi berada di titik terendah. Argentina kalah dari Chile pada final Copa America dan kembali gagal meraih trofi setelah empat kekalahan di final turnamen besar dalam kurun sembilan tahun.

Lalu Messi mengatakan ingin pensiun.  Keputusan itu mengejutkan dunia sepakbola. Namun Messi kemudian mengubah pikirannya dan kembali membela Argentina. Keputusan itulah yang kemudian mengubah segalanya.

Sejak membatalkan pensiun, Messi membawa Argentina memasuki periode gemilang. Argentina menjuarai Copa America 2021 dan 2024. Puncaknya terjadi di Piala Dunia 2022 ketika Messi mengantar Albiceleste menjadi juara dunia untuk pertama kalinya sejak era Diego Maradona pada 1986.

Sementara itu pelatih Austria Ralf Rangnick mengakui Messi memang ada di level yang berbeda. “Ini Lionel Messi. Dia tidak butuh banyak situasi untuk menentukan (hasil) pertandingan. Kalau seseorang usianya 39 tahun dan bisa mencetak dua gol dan lima secara keseluruhan di awal Piala Dunia, itu membuat perbedaan. Kami tahu dia di levelnya sendiri dan Lionel Messi menunjukkan dia salah satu yang terbaik, atau bahkan yang terbaik,” ujar Rangnick seperti dilansir Reuters. Meski demikian, Rangnick tetap mempertanyakan gol pertama Messi.

Dirinya menyebut ada pelanggaran oleh Mac Allister kepada Xaver Schlager lebih dulu. “Untuk gol pertama, saya akan tanya ke ofisial keempat untuk melakukan apa yang dia lakukan sebelum penalti, dia seharusnya meninjau dan melihat apa yang dilihat semua orang, pelanggaran terhadap (Xaver) Schlager. Itu menyebalkan. Meski begitu, secara keseluruhan saya puas dengan tim saya dan saya sepakat dengan cara mereka main hari ini,” ungkap Rangnick.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *