Cristiano Ronaldo tampil kurang gereget saat melawan Kongo.
HOUSTON – Laga Portugal kontra Kongo berakhir imbang 1-1. Selecao das Quinas sempat unggul lebih dulu lewat Joao Neves sebelum Yoane Wissa mampu menyamakan kedudukan. Laga Grup K itu berlangsung di Houston Stadium, Houston, Kamis (18/6) malam WIB.
Portugal sebenarnya tampil sangat dominan. Mereka mencatatkan 75 persen penguasaan bola dibanding Kongo yang hanya 25 persen. Namun, tumpulnya lini depan Portugal bikin dominasi ini seolah sia-sia.
Pelatih Timnas Portugal, Roberto Martinez, mengungkapkan bahwa timnya kekurangavariasi dalam serangan. “Kami memulai pertandingan dengan sangat baik. Mencetak gol seharusnya menjadi momen yang bagus bagi kami, tetapi tidak terjadi demikian. Saya pikir kami kehilangan sedikit variasi dalam serangan, kehilangan fluiditas dalam penguasaan bola, dan membiarkan mereka kembali menemukan bentuk permainan mereka,” ujar Martinez dikutip dari situs FIFA.
Cristiano Ronaldo yang jadi ujung tombak gagal menjalankan perannya dengan baik. Penyerang 41 tahun ini tak bikin satu pun tendangan ke arah gawang dari tiga percobaan yang dilepaskannya sepanjang 90 menit. Ia bahkan membuang peluang yang dikreasi oleh Francisco Conceicao.
Martinez terus memainkan Ronaldo hingga laga tuntas meski tampil buruk. Padahal, Portugal punya Joao Felix dan Goncalo Guedes yang akhirnya hanya duduk di bangku cadangan di laga ini.
Keputusan Martinez tak mengganti Ronaldo banyak dipertanyakan. Pria asal Spanyol ini mengungkap alasan memainkan CR7 selama 90 menit.
Menurutnya, Ronaldo dibutuhkan Portugal untuk membongkar pertahanan rapat Kongo. Ia menilai penyerang Al Nassr ini punya kemampuan menarik pemain lawan dan memanfaatkan ruang yang sangat. Meski pada akhirnya, kemampuan itu tak bisa bikin Portugal cetak gol kemenangan.
“Kami kesulitan karena mereka memiliki enam pemain belakang. Dalam situasi seperti itu, Anda dapat memanfaatkan kualitasnya. Tidak masuk akal untuk mengeluarkan pemain seperti Cristiano dari pertandingan ketika Anda membutuhkan gol. Bermain langsung ke depan bukan cara tercepat. Cara dia menarik perhatian bek dan memanfaatkan ruang sangat berharga. Ketika Anda membutuhkan gol, Anda membutuhkan pemain seperti Cristiano Ronaldo di lapangan,” ujar Martinez dikutip dari situs FIFA.
Bek Portugal Joao Cancelo menyadari timnya perlu banyak berbenah. “Kami banyak menguasai bola, tapi tidak menciptakan banyak peluang bersih. Kami kekurangan intensitas di sepertiga akhir. Kami seharusnya bisa bermain lebih baik dan kami membiarkan lawan mendapatkan terlalu banyak kesempatan transisi. Kami semua pemain dengan kerendahan hati yang besar. Kami perlu melihat apa saja yang keliru, membetulkan kesalahan-kesalahan kami, dan memenangi laga berikutnya,” kata Cancelo di situs FIFA.
Sementara pelatih Kongo, Sebastien Desabre menyebut performa anak asuhnya jadi kunci kesuksesan curi satu angka dari Portugal. Pelatih asal Prancis itu bangga luar biasa lantaran pasukan The Leopards menerjemahkan apa yang telah direncanakan sebelum pertandingan dimulai.
“Para pemain menunjukkan komitmen dan pengorbanan yang luar biasa. Kami menjalankan rencana permainan persis seperti yang kami inginkan, mencetak gol dari situasi bola mati. Sejujurnya saya sangat bangga kepada para pemain karena mereka mewakili Kongo dengan cara yang sangat positif dan seluruh negeri layak mendapatkannya,” kata Desabre dari situs FIFA.
Hasil lain di grup ini, Kolombia mengalahkan Uzbekistan dengan skor 3-1 dalam laga yang berlangsung di Stadion Azteca, Mexico City, Kamis (18/6) dinihari WIB. Kolombia pun memimpin grup dengan nilai 3, disusul Portugal dan Kongo dengan nilai 1. Di posisi buncit ditempati Uzbekistan dengan nol poin.***
