Luis Enrique bersama skuad PSG bangga dengan trofi Liga Champions.
PARIS – Paris Saint-Germain (PSG) sukses mempertahankan gelar juara Liga Champions usai mengalahkan Arsenal lewat adu penalti (4-3). Keduanya berimbang 1-1 hingga 120 menit, dalam partai final di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5) malam WIB lalu.
Pelatih PSG Luis Enrique pun berhasil membawa PSG juara Liga Champions dua musim beruntun. Ia menginginkan yang ketiga.
Sebagaimana diketahui pertandingan berjalan alot. Arsenal yang memimpin cepat lewat gol Kai Havertz pada menit keenam berangsur-angsur menarik diri dari pressing agresif dan bertahan dengan menumpuk pemain.
Hal itu bikin PSG kesulitan, khususnya di babak pertama. Pada babak kedua, PSG coba menaikkan tempo dan intensitas tekanan hingga satu tusukan dari Khvicha Kvaratskhelia berujung penalti.
Ousmane Dembele menuntaskan tugas itu dengan sempurna. PSG menang di adu penalti setelah eksekutor kelima Arsenal, Gabriel Magalhaes, menembak bola ke atas mistar gawang.
Enrique menilai timnya sepenuhnya berhak atas pencapaian ini. Khususnya setelah bangkit dari start sulit di awal musim, lolos lewat play-off 16 besar, hingga mengalahkan tim-tim kuat seperti Liverpool dan Bayern Munich.
“Menurut saya kami berhak juara. Mungkin di laga final kedua tim pantas menang, tapi dengan cara kami bermain sepanjang musim, rasanya kami layak memenangi Liga Champions. Kami sangat senang dan mencoba untuk ada di titik ini lagi tahun depan. Kenapa tidak?” kata Enrique di situs UEFA.
Keberhasilan PSG menjuarai Liga Champions 2025/2026 ternyata tidak hanya menghadirkan trofi. PSG juga mencatatkan rekor bersejarah dengan menyamai torehan gol terbanyak dalam satu musim Liga Champions.
Mereka menutup musim dengan total 45 gol. Jumlah itu berhasil menyamai rekor yang sebelumnya hanya dimiliki Barcelona sejak musim 1999/2000, sebagaimana dicatat situs resmi UEFA.
PSG memastikan catatan tersebut setelah mencetak gol dalam final. Gol Dembélé membuat total gol PSG musim ini mencapai 45. Jumlah tersebut menyamai rekor Barcelona yang telah bertahan selama 26 tahun. Saat mencatatkan rekor pada musim 1999/2000, Barcelona masih dilatih Louis van Gaal dan memainkan 16 pertandingan hingga semifinal.
Menariknya, Enrique yang kini melatih PSG juga menjadi bagian dari skuad Barcelona saat itu dan ikut menyumbang enam gol.
Produktivitas PSG musim ini tidak bertumpu pada satu pemain saja. Sebanyak empat pemain menjadi penyumbang gol utama Les Parisiens. Mereka adalah Khvicha Kvaratskhelia (10 gol), Ousmane Dembélé (8), Vitinha (6) dan Désiré Doué (5.)
Sebanyak 10 gol PSG musim ini lahir dari pemain yang masuk dari bangku cadangan. Jumlah tersebut menjadi rekor baru Liga Champions dan melampaui catatan lama yang dibuat 1. FC Kaiserslautern pada musim 1998/1999.
Musim ini juga menghadirkan catatan unik lainnya. PSG bukan satu-satunya tim yang sangat produktif. Bayern Munich mampu mencetak 43 gol sebelum tersingkir di semifinal.
Itu berarti untuk pertama kalinya dalam sejarah Liga Champions, dua tim berbeda berhasil menembus angka 40 gol dalam satu musim yang sama. PSG finis dengan 45 gol, sementara Bayern mengoleksi 43 gol.
Kvaratskhelia terpilih sebagai Pemain Terbaik Liga Champions 2025/26. UEFA menilai Kvaratskhelia punya peran vital dalam kesuksesan Paris Saint-Germain mempertahankan gelar juara.
Kvaratskhelia tampil 16 kali di Liga Champions musim ini atau hanya absen satu kali. Selain menyumbang 10 gol , ia juga membuat enam assist.
Kvaratskhelia menyamai rekor pemain PSG dengan gol terbanyak dalam satu musim Liga Champions yang pernah diukir Zlatan Ibrahimovic pada 2013/14. Winger berusia 25 tahun itu menjadi pemain dengan keterlibatan gol terbanyak di fase knockout (tujuh gol dan tiga assist).
Kvaratskhelia juga berperan penting dalam kemenangan atas Arsenal di final Liga Champions. Ia menghasilkan penalti setelah dijatuhkan oleh Cristhian Mosquera.***
