Studi Ungkap Makanan Malam Berpengaruh Besar pada Kualitas Tidur

JAKARTA(LB) — Sebuah studi menemukan bahwa pilihan makanan saat makan malam bisa memengaruhi kualitas tidur hingga pola makan pada pagi keesokannya. Temuan itu diungkap dalam penelitian yang dipimpin University of Granada dan dipublikasikan di European Journal of Nutrition.

Penelitian tersebut menemukan adanya hubungan dua arah antara pola makan dan tidur. Artinya, makanan yang dikonsumsi saat malam hari dapat memengaruhi kualitas tidur, sementara kualitas tidur juga menentukan pilihan makanan saat sarapan.

“Menu makan malam memengaruhi tidur, dan tidur pada gilirannya memengaruhi kebiasaan sarapan keesokan harinya,” kata para peneliti, dilansir laman Euro News, baru baru ini.

Untuk meneliti hubungan tersebut, para peneliti mengamati pria dan wanita obesitas selama 14 hari berturut-turut dalam kondisi kehidupan sehari-hari, bukan di laboratorium. Selama pengamatan, para peserta diminta mencatat makanan yang mereka konsumsi terutama makan malam dan sarapan.

Sementara itu, kualitas tidur mereka dipantau menggunakan akselerometer dan alat pelacak tidur. Pendekatan ini dinilai memberi gambaran yang lebih realistis mengenai interaksi antara pola makan dan tidur karena kebiasaan peserta diamati secara alami di lingkungan sehari-hari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi nutrisi pada makan malam berkaitan erat dengan kualitas tidur di malam yang sama. 

Makanan tinggi kalori, lemak, kolesterol, protein, alkohol, daging merah, dan gorengan, berkaitan dengan kualitas tidur yang lebih buruk. 

Adapun makan malam yang mengandung lebih banyak karbohidrat, minyak zaitun, dan ikan berlemak justru dikaitkan dengan kualitas tidur yang lebih baik.

Penelitian juga menemukan kualitas tidur memengaruhi pola makan keesokan paginya. “Kualitas tidur yang lebih buruk dikaitkan dengan kebiasaan sarapan yang kurang sehat,” kata peneliti.

 Secara khusus, data menunjukkan peserta yang bangun lebih siang cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori saat sarapan. Selain itu, tidur yang sering terfragmentasi atau terganggu dikaitkan dengan konsumsi gula yang lebih tinggi dan asupan serat yang lebih rendah.

Sebaliknya, durasi tidur yang lebih panjang berkaitan dengan kualitas sarapan yang lebih sehat secara keseluruhan. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa tidur bukan sekadar dipengaruhi pola makan, tetapi juga dapat membentuk keputusan makan selanjutnya.

Menurut para peneliti, makan malam, tidur, dan sarapan merupakan bagian dari satu siklus harian yang saling memengaruhi. Perubahan kecil dalam salah satu aspek tersebut dapat berdampak pada aspek lainnya.

Walaupun efek yang ditemukan dalam penelitian ini relatif kecil, hasil studi dinilai memberi wawasan baru mengenai hubungan antara kebiasaan makan dan kualitas tidur. 

“Kami percaya ini pada akhirnya dapat membantu meningkatkan strategì pencegahan dan pengobatan obesitas dengan mempertimbangkan tidak hanya apa yang dimakan orang, tetapi juga kapan mereka makan dan seberapa baik mereka tidur,” kata peneliti.tom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *