Indra Wahidin memberikan potongan kue ulang tahun simbol estafet kepemimpinan.
JAKARTA (LB)—Memperingati 27 tahun berdirinya Perhimpunan INTI (Indonesia Tionghoa), pengurus GEMA INTI (Generasi Muda Indonesia Tionghoa) DKI Jakarta menyelenggarakan Dialog Kebangsaan bertajuk “Makna Kebangsaan Indonesia bagi Generasi Muda”, di Sekretariat Perhimpunan INTI, Mega Glodok Kemayoran Tower, Jakarta Pusat, Sabtu (18/4/2026).

Tampil sebagai narasumber, Siauw Tiong Djin yang merupakan tokoh komunitas diaspora Indonesia di Melbourne yang juga salah satu pendiri FAKTA (Forum Aktual Kekerabatan Tionghoa Australia) dan Ir. Azmi Abubakar, Ketua INTI Aceh yang juga pendiri Musium Peranakan Tionghoa.
Hadir dalam acara tersebut, Ketua Umum Perhimpunan INTI dr Indra Wahidin, Ketua Pembina Perhimpunan INTI Teddy Sugianto, Pendiri dan Pembina PINTI Nancy Widjaja, Ketua INTI DKI I Wayan Suparmin, Koordinator Acara Dialog Kebangsaan Candra Jap, jajaran pengurus INTI DKI dan sejumlah tokoh.


Siauw Tiong Djin menyampaikan beberapa sejarah kelam orang Tionghoa di Indonesia. Iapun membuka peran sang ayah Siauw Giok Tjhan dalam pendirian BAPERKI (Badan Persiapan Kewarganegaraan Indonesia).
Dimana sang ayah mengalami diskriminasi hukum dan diduga mendukung sebuah aliran partai yang condong bersebrangan dengan pemerintah.
Azmi Abubakar, menyampaikan bahwa sangat sulit orang Tionghoa bersuara tentang perjuangan dan jasa serta eksitensinya dalam membangun negeri.

Keprihatinan ini, membuat ia melangkah mencari indetitas ke-Tionghoaan dan mendirikan Musium Peranakan Tionghoa.
Ia juga memaparkan dari peran orang Tionghoa sejak penjajahan Belanda, Jepang hingga persiapan kemerdekaan dan perjuangan membantu dalam kemerdekaan dan pembangunan pendidikan serta ekonomi, hingga saat ini.
Dalam acara yang diharapkan menggugah generasi muda untuk mencintai tanah air ini, ditutup dengan tiup lilin kue ulang tahun Perhimpunan INTI ke-27.

Dialog Kebangsaan Perhimpunan INTI DKI
Sebelumnya, bertepatan dengan Munaslub III Perhimpunan INTI, diadakan juga Dialog Kebangsaan yang mengupas seorang sejarawan yang sangat mencintai negeri Indonesia Benny G Setiono, melalui buku yang ditulisnya dengan judul ”Tionghoa dalam Pusaran Politik”.
Tampil sebagai nara sumber Sukardi Rinakit dan Stanley Adi Prasetyo, yang menyatakan buku ini merupakan salah satu karya paling komprehensif mengenai perjalanan sejarah dan dinamika politik etnis Tionghoa di Indonesia

Melalui tumpukan dokumen dan hasil perbincangannya dengan beberapa tokoh sejarah, Benny berhasil merekonstruksi nasib orang Tionghoa dalam berbagai perubahan besar politik di negeri ini.
Mengapa isu anti-Tionghoa selalu ada dalam setiap pergolakan politik? Mengapa orang-orang Tionghoa selalu menjadi bahan politisasi dan “objek penderita” dalam catatan sejarah? Atau, mengapa muncul anggapan umum bahwa orang Tionghoa adalah “Binatang Ekonomi”?

Diskusi menarik dihadiri peserta Munaslub para ketua Pengurus Daerah dan tokoh pendiri INTI, menurut Ketua PD DKI I Wayan Suparmin, dimaksudkan agar setiap ketua dan pengurus daerah mencermati apa yang menjadi tugas utama dalam mengembangkan Perhimpunan INTI.
Sukardi Rinakit mengatakan, Perhimpunan INTI sudah berada dalam reel, memperjuangkan hak hak sebagai suku bangsa, berbakti untuk negeri, dan seiring perkembangan jaman, Perhimpunan INTI memaikan peran terobosan dengan turut berperan dalam ketahanan pangan, memajukan UMKM dan berkontribusi nyata setiap terjadinya bencana diberbagai daerah.
Lebih lanjut Sukardi Rinakit juga menyampaikan bahwa slogan Terbang Lebih Tinggi, Berbakti Untuk Negeri , sangat tepat untuk Perhimpunan INTI yang menginjak usia ke-27. bam
