Lanskap lokasi longsor dan lahan perkebunan di lereng Gunung Burangrang, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.
BANDUNG (LB)- Badan Geologi mengungkapkan bahwa peristiwa longsor di Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), merupakan hasil interaksi kompleks antara kondisi geologi, morfologi wilayah, tata guna lahan, serta curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian.
Plt Kepala Badan Geologi, Lana Satria, menjelaskan bahwa berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta hasil analisis data sekunder, gerakan tanah terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026, dengan luas area terdampak mencapai sekitar 30 hektare. Lokasi longsor meliputi RT 05 RW 11, RT 01 RW 11, serta RT 01 RW 10 Desa Pasirlangu, yang berada pada kawasan perbuktian dengan aktivitas permukiman dan pemanfaatan lahan yang cukup intensif.
“Morfologi daerah penelitian didominasi oleh bentang alam perbukitan vulkanik dengan ketinggian menengah hingga tinggi. Kemiringan lereng umumnya berkisar antara 8° – 40° dengan kelas lereng sedang hingga curam,” ucap Lana dalam keterangannya, Senin (26/1).
Lana menjelaskan, genesis morfologi wilayah ini dikontrol oleh aktivitas gunungapi purba yang menghasilkan endapan vulkanik tebal. Material ini kemudian mengalami proses pelapukan, erosi, dan denudasi intensif sehingga membentuk lereng-lereng tidak stabil.
Secara geologi, daerah terdampak tersusun oleh endapan gunungapi tua, berupa breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, serta material piroklastik yang telah mengalami pelapukan kuat.
Kondisi pelapukan lanjut menyebabkan penurunan kuat geser tanah dan batuan, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap gerakan tanah.
Selain itu, wilayah KBB dipengaruhi sistem struktur geologi berupa sesar dan rekahan yang berarah dominan baratlaut–tenggara dan baratdaya–timurlaut. “Keberadaan struktur geologi berupa zona rekahan dan sesar tersebut berimplikasi pada meningkatnya permeabilitas batuan serta berkembangnya bidang-bidang lemah yang dapat berperan sebagai bidang gelincir gerakan tanah,” ucapnya.
Dari aspek keairan, infiltrasi air hujan yang intensif ke dalam lapisan tanah hasil pelapukan menyebabkan peningkatan tekanan air pori yang signifikan.
Lana juga menyoroti pengaruh aktivitas manusia, terutama pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan yang tidak disertai drainase memadai.
“Tata guna lahan di sekitar lokasi kejadian didominasi oleh permukiman penduduk, lahan pertanian lahan kering, kebun campuran. Aktivitas pemotongan lereng turut mempengaruhi kestabilan lereng dan memperbesar potensi terjadinya gerakan tanah,” jelasnya.
Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), lokasi kejadian termasuk dalam Zona Kerentanan Menengah. Pada zona ini, longsor berpotensi terjadi jika lereng terganggu secara alami maupun akibat aktivitas manusia, khususnya saat hujan lebat berkepanjangan.
Hingga saat ini, tercatat 114 jiwa terdampak, dan puluhan orang masih dilaporkan hilang dalam proses pencarian.
Lana menegaskan bahwa faktor pemicu utama longsor adalah curah hujan tinggi yang menyebabkan penurunan kekuatan geser tanah secara drastis.
Menyikapi kondisi tersebut, Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat di sekitar lokasi terdampak segera mengungsi ke tempat yang lebih aman karena potensi longsor susulan masih tinggi. Kegiatan pencarian juga diminta memperhatikan kondisi cuaca. “Masyarakat di sekitar daerah bencana lebih waspada, khususnya yang berada dekat lereng yang curam, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan,” tuturnya. *
