Ribuan Rumah Masih Terendam Luapan Sungai Batanghari.
JAMBI (LB)- Banjir yang melanda Kota Jambi kian meluas. Kini, 22 kelurahan di enam kecamatan terendam banjir hingga mengakibatkan 11 ribu Kepala Keluarga (KK) terdampak.
Bahkan, banjir ini juga telah membuat beberapa rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga berat. Selian itu, banjir yang melanda Kota Jambi ini menelan satu korban jiwa.
“Enam kecamatan yang terendam banjir itu, mulai dari Kecamatan Jambi Timur, Kecamatan Danau Sipin, Kecamatan Danau Teluk, Kecamatan Telanaipura, Kecamatan Pelayangan, dan Kecamatan Pasar Jambi,” kata Juru Bicara Pemkot Jambi Abu Bakar, Senin (17/3).
Selain merendam rumah warga, banjir ini juga merendam bangunan sekolah di Kota Jambi. Apalagi, dari 6 kecamatan yang terendam itu tersebar di 22 kelurahan.
“Kelurahan ini ada di kawasan Sejenjang, Kasang, dan Kasang Jaya, lalu Kelurahan Sungai Putri (Legok), Kelurahan Ola Kemang, Kelurahan Tanjung Pasir, Ulu Gedong, Tanjung Raden, Pasir Panjang,” katanya.
“Selanjutnya Kelurahan Buluran Kenali, Penyengat Rendah, Teluk Kenali, Telanaipura, Pematang Sulur, kemudian Kelurahan Arah Melayu, Kelurahan Tanjung Johor, Kelurahan Mudung Laut, Kelurahan Tahtul Yaman, Kelurahan Tengah dan terakhir Kelurahan Sungai Asam,” sambungnya.
Dari kejadian banjir yang melanda Kota Jambi, sebanyak 11 ribu KK yang terdampak banjir. Bahkan, sebagian besar rumah yang terendam banjir ini berada di sekitar kawasan pinggiran Sungai Batanghari Jambi.
Dari 11 ribu KK tersebut, diketahui berjumlah sebanyak 4.161 jiwa yang mana 981 rumah mereka sudah terendam banjir. Ketinggian banjir yang merendam rumah warga bervariasi mulai dari 5 cm serta 60 cm.
“Saat ini sebanyak 355 warga yang terdampak kini sudah diungsikan,” jelasnya.
Pemerintah Kota Jambi sudah menaikkan status bencana banjir dari Siaga II menjadi Siaga I. Naiknya status bencana banjir itu disebabkan akibat meningkatnya debit air Sungai Batanghari dan tingginya intensitas hujan.
Bertahan di Rumah
Meskipun air Sungai Batanghari naik dan memasuki rumah-rumah masyarakat, warga sekitar memilih untuk tetap bertahan di rumah mereka dan belum mau tinggal di tenda pengungsian.
Fadila, salah satu warga Kelurahan Buluran Kenali, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, mengungkapkan bahwa dirinya bertahan di rumahnya lantaran takut rumahnya kemalingan.
“Takut barang-barang kita habis, kan sudah pernah kejadian dulu, habis barang-barang di rumah, pisau saja diambil orang,” ungkapnya saat di lokasi banjir, Senin (17/3).
Menurutnya, kejadian pada tahun sebelumnya membuat dirinya takut untuk mengungsi dan belum mau juga untuk mengungsi untuk sementara waktu.
Hal senada juga diungkapkan oleh Raden Tohar, yang meskipun air mengalami kenaikan, tetap bertahan sementara di rumahnya. Ia mengatakan bahwa dirinya punya pengalaman buruk saat mengungsi dari rumahnya ke posko selama sekitar 17 hari.
“Pengalaman, orang maling pakai ketek (perahu) masuk ke rumah, hilang semua barang di rumah,” ujarnya.
Sementara itu, mengenai kondisi kesehatan saat ini, ia menyatakan bahwa semenjak banjir ini, kondisi warga mengalami gatal-gatal dan kemerahan. Kemudian, mengenai bantuan dari pemerintah, ia mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kota Jambi. *
