JAKARTA(LB)- Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) menggagas terapi fobia dengan Virtual Reality (VR) dan aroma kemenyan. Terapi menggabungkan teknologi modern dan kearifan lokal lewat inovasi Incensory.
Dilansir dari siaran pers Unpad, data dari American Psychiatric Association (2013) menunjukkan fobia spesifik bisa meningkatkan risiko gangguan serius. Bahkan sampai menyebabkan kecenderungan bunuh diri hingga 60 persen.
Dari hasil survei tim mahasiswa Unpad, tercatat 81,1 persen responden mengaku mengalami gejala fobia yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Angka ini menunjukkan kebutuhan terapi yang lebih ramah, aman, dan bisa diakses dengan mudah.
Kemenyan sebagai bahan utama parfum Incensory bukan hal asing bagi masyarakat Indonesia. Selama berabad-abad, kemenyan telah digunakan dalam berbagai ritual budaya dan spiritual.
Penelitian modern mengungkap kemenyan mengandung senyawa alami yang dapat membantu mengurangi stres dan memberikan efek menenangkan.
Kombinasi teknologi modern dan kearifan lokal ini menjadikan Incensory bukan hanya terobosan di bidang kesehatan mental, tetapi juga produk dengan nilai budaya yang kuat, sekaligus membuka peluang pemanfaatan komoditas lokal ke ranah global.
Supaya lebih lekat dengan budaya nusantara, setiap varian Incensory diberi nama dari bahasa daerah yaitu Timbo (Batak, berarti tinggi), Jero (Sunda, berarti menjorok), dan Peteng (Jawa, berarti gelap). Keunikan ini semakin diperkuat dengan desain kemasan bermotif batik, yang tidak hanya menonjolkan nilai tradisi, tetapi juga memberikan identitas khas pada produk.
Incensory juga menghadirkan platform digital yang bisa diakses melalui QR code di kemasan. Platform ini berisi panduan pemakaian, tips menghadapi fobia, artikel seputar kesehatan mental, hingga voucher khusus untuk layanan tambahan, menjadikannya ekosistem inovatif yang praktis dan mudah dijangkau.
Tim kreatif multidisiplin ini terdiri dari Jeremia Luis Fernando Silitonga (Bisnis Internasional), Farhan Ardia Nashwan (Kedokteran), Salma Salamah (Ilmu Peternakan), Nadia Ratu Aini Alamsyah (Akuntansi), dan Haris Herdiansyah (Teknik Informatika), dengan bimbingan Vira Kusuma Dewi.
Inovasi ini lahir melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) dan berhasil mendapatkan pendanaan dari Kemendikti Saintek RI. ans
