Selebrasi pemain Spanyol usai Pedro Porro mencetak gol ke gawang Prancis.
ARLINGTON – Spanyol berhasil lolos ke babak final Piala Dunia 2026 usai mengalahkan Prancis 2-0 pada babak semifinal yang berlangsung di AT&T Stadium, Arlington, Rabu (15/7) dini hari WIB. Gol-gol Spanyol lahir dari eksekusi penalti Mikel Oyarzabal di menit ke-22 dan situasi open play yang dibuat oleh Pedro Porro pada menit ke-58.
Pelatih Spanyol Luis de la Fuente mengatakan tim asuhannya mencapai puncak performa di saat yang tepat. De la Fuente mengungkapkan bahwa Raja Felipe VI telah menelepon skuad Spanyol di ruang ganti untuk menyampaikan ucapan selamat kepada tim.
“Merupakan suatu kebanggaan bagi kami bahwa Raja menelepon dan terus mendukung kami. Kami bertanggung jawab atas kegembiraan yang dirasakan masyarakat di jalanan. Generasi pemain ini memiliki sikap yang sangat baik, dan mereka menjadi panutan untuk begitu banyak nilai,” kata De la Fuente.
Pelatih berusia 65 tahun itu mengatakan penampilan timnya merupakan hasil dari rencana matang untuk membangun momentum sepanjang turnamen. “Kami terus berkembang dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya, dari satu kompetisi ke kompetisi selanjutnya. Dari segi permainan sepak bola, kami telah mencapai puncak performa pada saat yang tepat setelah menjalani musim yang panjang,” ujarnya.
De la Fuente menyebutkan, Spanyol mampu meredam serangan Prancis yang dipimpin Kylian Mbappe berkat kedisiplinan, organisasi permainan, dan pengorbanan para pemain.
“Kami mungkin menghadapi salah satu timnas terbaik di dunia. Namun, mereka juga menghadapi tim terbaik, kumpulan pemain terbaik di dunia. Kami adalah satu tim, dan ketika menghadapi tim seperti kami, kami tidak terkalahkan. Itulah yang kami rasakan saat ini,” ujar De la Fuente.
Spanyol kini berpotensi mengawinkan gelar Piala Eropa 2024 dengan trofi Piala Dunia 2026. Andai itu terjadi, kerja keras La Roja dalam empat tahun ini tentu sangat luar biasa. “Kami memulai hampir empat tahun lalu dengan sebuah ide dan kami tetap setia pada ide itu, dan itu membawa kami ke sini,” ujarnya.
Vincente del Bosque menjadi satu-satunya pelatih Spanyol yang bisa mengawinkan gelar Eropa dengan Dunia. Hal itu terjadi pada Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012. Ini menjadi final kedua Spanyol dalam sejarah Piala Dunia. Spanyol pertama kali ke laga puncak di pentas dunia pada 2010 dan langsung menjadi juara.
Saking langkanya Spanyol berhasil ke final, bahkan menembus semifinal, maka menjadi wajar kalau Pedro Porro tak pernah bermimpi liar merasakan laga puncak ajang sepakbola terbesar ini.
“Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan, jujur saja, bahkan bukan dalam mimpi terliar saya. Sangat senang dengan sikap tim dari awal hingga akhir. Saya pikir kami memainkan pertandingan yang hebat, kami melakukan semua yang harus kami lakukan hari ini untuk mencapai final,” kata Pedro Porro, yang dikutip dari situs resmi FIFA.
Porro yang dinobatkan sebagai Man of The Match (MoTM) merayakan gol dengan duduk bersila sambil mengacungkan jari tangannya menjadi tinju. Ternyata ada makna tersendiri di balik indakan itu. “Putra saya yang sekarang tak bisa menemani saya karena sedang demam. Ini adalah momen yang bercampur emosi, sebab anak saya tak bisa hadir di sini dan ayahnya berhasil mencetak gol. Saya mempersembahkan ini buat anak saya dan semoga dia sudah lebih baik besok,” kata Porro kepada USA Today.
Sementara itu pelatih Prancis, Didier Deschamps, jelas kecewa dengan hasil ini. Ia menegaskan timnya kalah karena penampilan mereka sendiri. Prancis banyak bikin kesalahan. Selain itu, mereka juga tak tajam di depan gawang lawan.
“Para pemain sangat kecewa karena kami memiliki ambisi yang tinggi, meskipun kami harus mengakui bahwa kami sedikit di bawah level biasanya secara teknis, menghadapi tim yang benar-benar menguasai permainan,” ujar Deschamps dikutip dari situs FIFA.
Deschamps juga tak puas dengan penampilan wasit. Ada sebuah momen kontroversial ketika wasit Ivan Barton menghadiahkan penalti kepada Spanyol, menyusul pelanggaran Lucas Digne terhadap Lamine Yamal. Tidak sedikit yang meyakini, keputusan itu tidak tepat karena tendangan Digne bukan kesengajaan dan bola mengenai lengan Yamal lebih dulu (hand ball).
“Kemudian, saya menanyakan sebuah pertanyaan, dan saya tidak akan menjawabnya: ‘Apakah si wasit cukup bagus untuk memimpin sebuah semifinal Piala Dunia?’ Kami memang punya beberapa situasi, dan saya tidak akan menjawabnya. Dan saya tidak akan mengatakan ini karena kami kalah, tapi memang ada beberapa situasi… sering kali merugikan kami juga,” ujar pelatih berusia 57 tahun ini.
Les Bleus memang menjadi tim biasa saja di hadapan La Furia Roja. Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Bradley Barcola dan Michael Olise gagal mengancam Spanyol pada paruh pertama laga. Perubahan yang dilakukan Prancis pada babak kedua dengan mengganti Barcola dengan Desire Doue dan Olise dengan Rayan Cherki juga tak membuahkan hasil.
Cherki mengakui permainan bagus Spanyol. “Saya berbicara berdasarkan pengalaman saya sendiri. Ketika saya melangkah ke dalam lapangan, saya tidak merasa Spanyol lebih unggul dari kami. Namun dari bangku cadangan, terlihat jelas bahwa mereka mengalirkan bola dengan sangat baik. Mereka memainkan gaya sepakbola yang mereka sukai. Sebaliknya, kami tidak memainkan gaya permainan yang kami sukai. Ketika kami bisa bermain dengan gaya kami sendiri, kami adalah tim yang luar biasa,” kata Cherki seperti dikabarkan oleh Marca.***
