Foto bersama Sanghanayaka STI, Padesanayaka, Upa Padesanayaka STI Bali, Dirjen Bimas Buddha, perwakilan Gubernur Bali, Bupati Jembrana, Forkompinda, Kakan Kemenag, Ketua FKUB, Ketua LVRI Jembrana, Pembinas Buddha dan Panitia Setengah Abad Vihara Empu Astapaka, 7 Juni 2026
MENAPAKI JALAN KEBAJIKAN DI BUMI JEMBRANA
JEMBRANA (LB)–Suasana khidmat dan penuh semangat kebajikan menyelimuti peringatan Hari Trisuci Waisak 2570 Buddhis Era (BE) di Kabupaten Jembrana. Tahun ini, perayaan Waisak memiliki makna yang lebih mendalam karena bertepatan dengan peringatan Setengah Abad (50 tahun) berdirinya Vihara Empu Astapaka, yang terletak di pintu masuk pulau Bali dari Jawa, Gilimanuk.
Mengusung tema “Dharma Menjaga Kedamaian Dunia, Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih Bagi Negeri”, rangkaian kegiatan yang dikemas dalam tajuk Vesakha Sananda 2570 BE tidak hanya menghadirkan ritual keagamaan, tetapi juga aksi nyata kepedulian sosial kemanusiaan dan pelestarian lingkungan yang telah berlangsung sejak awal tahun 2026.

Rangkaian kegiatan diawali dengan bertekad menjalani 8 Latihan Desiplin Moral (8 Sila) setiap hari Uposatha sepanjang tahun 2026 yang di deklarasikan saat acara keakraban Magabudhi Bali 10-11 Februari di Vihara Dharmagiri, Pupuan. Deklarasi ini mengimplementasikan Surat Himbauan Sangha Theravada Indonesia dan Surat Edaran Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI.
Pada Perayaan Maghapuja 2569 BE, 8 Maret 2026 turut berkolaborasi dalam kegiatan donor darah dan berbagi sembako kepada veteran di perayaan Festival Imlek dan Cap Go Meh 2026 Bersama INTI, IKBS, berbagai vihara dan elemen masyarakat Jembrana di Gedung Kesenian Dr.Ir Soekarno.

Pada Minggu, 12 April 2026, diselenggarakan aksi pelepasan 50 ekor burung perkutut dan penanaman 150 pohon cemara udang, pohon bodhi dan aneka pohon bunga di kawasan Pura Tirta Segara Rupek, Pura Campa Samiana, Gilimanuk serta di Vihara Empu Astapaka. Kegiatan ini menjadi simbol penghormatan terhadap kehidupan sekaligus wujud nyata komitmen umat Buddha dalam menjaga kelestarian alam.
Semangat berbagi berlanjut pada 3 Mei 2026, melalui kegiatan ziarah dan tabur bunga ke Taman Makam Pahlawan Kesatria Kusuma Mandala, Negara, yang dirangkaikan dengan penyaluran sembako dan angpao kepada para veteran.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh WALUBI Jembrana bersama penyelenggara Buddha, Permabudhi, Wadah Antar Lembaga Umat Buddha sebagai penghormatan atas jasa para pahlawan.


Kemudian pada 10-11 Mei 2026 Vihara Empu Astapaka dipercaya menjadi tempat bermalam dan pelepasan 58 bhikkhu IWFP (Indonesian Walk For Peace) 2026 menyeberangi Selat Bali menuju Borobudur.
Pelepasan oleh Bupati Jembrana, Forkompinda, Sulinggih, Tokoh Lintas Agama, Adat dan Etnis diiringi Jegog musik tradisional khas Jembrana, Naga Barongsai dan Balaganjur sampai di Kapal Laut menuju Ketapang, Banyuwangi
Memasuki puncak perayaan Waisak pada Sabtu, 6 Juni 2026 dilaksanakan Pindapata mulai pukul 06.30 hingga 07.30 mengambil rute dari kawasan Gedung Kesenian Bung Karno menuju Jalan Ngurah Rai dan berakhir di Kebun Raya Jagatnatha, Jalan Jenderal Sudirman.

Pindapata mengajarkan nilai kerendahan hati, keikhlasan, serta semangat berbagi. Tradisi yang telah diwariskan sejak masa Sang Buddha lebih dari 2.500 tahun lalu ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tumbuh dari praktik memberi tanpa pamrih.
Setelah Pindapata, kegiatan dilanjutkan dengan menanam 200 pohon bodhi, pelepasan 50 burung perkutut dan donor darah di kawasan Kebun Raya Jagatnatha. Penanaman 5 pohon bodhi simbolis oleh Asisten 1 yang mewakili Bupati, Kadis Lingkungan Hidup, Polres dan kepala UPTD Kebun Raya.
Rangkaian Waisak berlanjut pada Minggu, 7 Juni 2026. Sejak pagi hari, umat Buddha kembali menggelar penanaman 50 pohon cemara udang di pesisir pantai area Kuburan bersama, di Gilimanuk di Pimpin Lurah, Bendesa Adat dan Batalion CP Gilimanuk.

Selanjutnya, pada pukul 10.00 WITA, Pindapata dan Dana Makan kembali dilaksanakan di lingkungan Vihara Empu Astapaka hadir 3 Bhikkhu; Sri Subhapannyo Mahathera, B Pabhajayo, B Kusala Sarano.
Puncak Perayaan Vesakha Sananda dan setengah abad Vihara Empu Astapaka ditandai dengan pemberkahan plang nama vihara, penandatanganan Prasasti Setengah Abad (50 tahun) Vihara Empu Astapaka oleh Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia Bhikkhu Sri Subhapannyo Mahathera, Dirjen Bimas Buddha Kemenag RI, drs. Supriyadi, S.Ag., M.Si, Gubernur Bali yang diwakili Kepala Badan Kesbangpol Bi, Gede Suralaga dan Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan,S.E.,M.Si. Di Akhir acara menampilkan Wayang Sutasoma oleh Sanggar Seni Gita Mahardika serta Lagu Berkah Waisaka Puja Ciptaan Bhikkhu Girirakkhito dengan Garuda Pancasila yang ditandu anak anak Buddhis berpakaian adat.

Menurut Pandita Sudiarta Indrajaya didampingi Liem Kok Hin, Pandita Samianto dan Sunaryo, peringatan tahun ini memiliki makna yang sangat istimewa. Selain menandai usia emas Vihara Empu Astapaka, tahun 2026 juga menjadi momentum bersejarah karena Sangha Theravada Indonesia dan Majelis Agama Buddha Indonesia (Magabudhi) sama-sama memasuki Tahun Kencana atau usia 50 tahun pada Oktober mendatang.

Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, umat Buddha di Jembrana tidak hanya merayakan hari suci keagamaan, tetapi juga menghadirkan pesan universal tentang kejujuran, kedamaian, kepedulian sosial, penghormatan terhadap jasa para pahlawan, serta tanggung jawab menjaga kelestarian alam.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, semangat Waisak kembali mengingatkan bahwa jalan menuju kedamaian dunia dimulai dari langkah-langkah sederhana: berbagi kepada sesama, menghormati kehidupan, dan merawat bumi sebagai rumah bersama. **
