Krisis Air Bersih, Warga di Purwakarta Gunakan Air Kubangan untuk Mandi dan Mencuci

Warga di Purwakarta terpaksa menggunakan kubangan untuk mencuci dan mandi akibat krisis air.

PURWAKARTA (LB)- Krisis air bersih akibat kemarau panjang mulai dirasakan warga Desa Batutumpang, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Sumur-sumur warga mengering sehingga mereka terpaksa memanfaatkan kubangan bekas galian tanah untuk mandi dan mencuci.

Selama sekitar tiga bulan terakhir, dua kubangan yang masih menyisakan genangan air menjadi tumpuan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski airnya tampak keruh kecokelatan dan bercampur lumpur, sampah plastik, serta lumut, warga mengaku tidak memiliki pilihan lain.

Setiap hari, warga datang membawa ember, jeriken, dan pakaian kotor. Sebagian mencuci pakaian di tepian kubangan, sementara anak-anak terlihat mandi menggunakan air yang diambil dari genangan tersebut.

Nina (31), warga Desa Batutumpang, mengatakan keluarganya mulai kesulitan mendapatkan air bersih sejak sumur di rumah mengering sekitar tiga bulan lalu. “Sudah tiga bulan enggak ada air. Sumur kering. Mau enggak mau mandi sama nyuci di sini,” kata Nina, Rabu (22/7).

Menurut Nina, air dari kubangan hanya digunakan untuk mandi dan mencuci. Sementara kebutuhan memasak dan minum dipenuhi dengan membeli air isi ulang seharga Rp 5.000 per galon atau air mineral sekitar Rp 20.000 per galon.

Ia mengatakan bantuan air bersih dari pemerintah desa melalui mobil tangki memang sesekali datang. Namun, distribusinya belum mampu memenuhi kebutuhan warga selama musim kemarau.

“Takut sih, tapi enggak ada lagi air. Alhamdulillah sampai sekarang belum ada yang sakit. Harapan kami pemerintah bisa kirim air bersih seminggu dua kali,” ujarnya.

Kondisi serupa dialami Solihah (45). Setiap musim kemarau, ia harus berjalan sekitar 30 menit menuju kubangan untuk mencuci pakaian. “Kalau kemarau sudah biasa begini. Enggak ada air di rumah. Nyuci di sini, mandi juga kadang di sini,” katanya.

Selain memanfaatkan air kubangan, Solihah juga membeli air bersih untuk memasak, mencuci peralatan makan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Harga satu toren air bersih mencapai sekitar Rp 60.000. Warga berharap pemerintah menyediakan sumber air bersih permanen agar persoalan yang sama tidak terus berulang setiap musim kemarau. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *