Ketum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo. (istimewa)
BOGOR (LB)—Ketua Umum MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Xs. Budi S. Tanuwibowo menghadiri sekaligus menyampaikan Jiang Dao (khotbah) dalam kebaktian umat Khonghucu di Litang Gerbang Kebajikan MAKIN Citeureup, Kabupaten Bogor, Minggu (14/6/2026). Kebaktian yang dipimpin oleh rohaniwan MAKIN Citeureup, Js. Liana Tan Pau Cu ini dihadiri oleh sekitar 300 umat dengan khidmat.
Turut hadir mendampingi jajaran Pengurus Pusat MATAKIN, di antaranya Sekretaris Bidang Keorganisasian Js. Dede Hasan Senjaya, Sekretaris Bidang Kerohanian Ws. Sunarta Hidayat, dan Wakil Ketua Bidang Dana Auwjang Phin Khuan.
Sementara dari tuan rumah hadir Ketua MAKIN Citeureup yang juga Wakil Bendahara Umum MATAKIN Js. Irwan Sutarman, Wakil Ketua MAKIN Citeureup Hendri Ayung Tjoe, serta Ws. Ronny Winanto.
Mengawali khotbahnya, pria yang akrab disapa Xs. BST ini menjelaskan bahwa sebuah Jiang Dao biasanya fokus membedah satu ayat secara mendalam. Menurutnya, khotbah mingguan sering kali hanya mengupas serpihan persoalan hidup sehari-hari, bukan keseluruhan esensi agama Khonghucu. Karena itu, umat dituntut untuk belajar secara komprehensif di luar kebaktian agar tidak salah paham.
Dalam kesempatan tersebut, Xs. BST merefleksikan kembali perjalanan sejarah agama Khonghucu di Indonesia yang sempat mengalami pembekuan sebanyak dua kali, yakni pada masa pendudukan Jepang dan era Orde Baru. Ia pun membagikan pengalaman pribadinya saat duduk di bangku SMA pada 1977.
“Saya kelahiran tahun 1960, usia saya sekarang 66 tahun, waktu itu saya mendapatkan KTP pertama dengan kolom agama Khonghucu. Namun, memasuki semester kedua SMA di tahun 1978, saya kaget Agama Khonghucu tidak lagi diperbolehkan di KTP, sehingga saya terpaksa sempat berganti ke agama lain,” kenangnya.
Ia kemudian meluruskan stigma salah kaprah yang sempat membuat pemerintah di masa lalu menganggap Khonghucu bukan sebagai agama. Faktor pertama adalah anggapan bahwa Khonghucu tidak memiliki Tuhan dan menganggap Tian hanyalah langit.
“Padahal jika kita membaca Kitab Sishu, Tian memiliki makna yang sangat mendalam. Ia tidak tampak saat dilihat, tidak bersuara saat didengar, namun segala sesuatu ada karena diri-Nya. Bagi umat Khonghucu, Tian adalah Tuhan Yang Maha Esa, Khalik semesta alam yang Maha Awal, Maha Pencipta, Maha Adil, serta Maha Pengasih,” tegasnya.
Faktor kedua adalah anggapan bahwa Khonghucu tidak memiliki nabi. Menanggapi hal ini, Xs. BST membalikkan argumen tersebut dengan menjelaskan esensi seorang Nabi sebagai guru bagi berlaksa manusia dan zaman, yang ajarannya mampu melintasi berbagai era. “Bahkan dalam agama Khonghucu, sejauh yang saya ketahui ada 30 nabi, dan lima di antaranya adalah perempuan,” ungkapnya.
Ia juga sempat menyinggung tempat suci umat Khonghucu di Qufu, Shandong, Tiongkok, yang merupakan tempat lahir dan makam Nabi Kongzi.

Lebih lanjut, Xs. BST meluruskan pemahaman awam mengenai rumah ibadah umat Khonghucu. Banyak orang mengira rumah ibadah Khonghucu hanyalah Litang. Padahal, Litang merupakan bagian atau ruang dari Miao (Miao/Bio/Kelenteng).
“Litang dapat dikategorikan sebagai rumah ibadah perjuangan akibat kebijakan masa Orde Baru. Saat aktivitas agama Khonghucu dibekukan, banyak umat Khonghucu yang terpaksa keluar dari kelenteng. Di Bogor, misalnya, umat membangun Litang di daerah pelosok dan gang kecil yang jauh dari pusat kota,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia mengimbau umat untuk tetap meramaikan kelenteng meskipun sedang tidak ada jadwal kebaktian. Apalagi saat ini pemerintah, MATAKIN dan MAKIN terus membangun rumah ibadah, Kelenteng, di berbagai tempat, seperti di TMII, Universitas Pancasila Jakarta, Solo, UGM Yogyakarta, Karawang, hingga Klaten yang akan segera diresmikan” tambahnya.
Terkait penerapan ajaran dalam kehidupan modern, Xs. BST menekankan bahwa Khonghucu tidak melarang umatnya mengejar kesuksesan materi. Namun, harus diraih melalui jalan yang benar, tidak melanggar kepatutan, dan membawa maslahat bagi lingkungan. Mengutip pandangan Mengzi, ia mengingatkan bahwa kebajikan baru bisa menyentuh hati orang lain jika mampu melahirkan kesejahteraan nyata.
Ia kemudian mencontohkan implementasi nyata nilai-nilai Wu Chang (Lima Kebajikan: Ren, Yi, Li, Zhi, Xin) di dunia profesional.
“Saya terkesan dengan apa yang dipresentasikan oleh seorang pengusaha terkenal. Seluruh lini bisnisnya didorong untuk menerapkan nilai tersebut, mulai dari tanggung jawab kasih sayang kepada pelanggan, menjaga etika susila dalam promosi, hingga menjaga kepercayaan. Jadi, jangan anggap Lima Kebajikan itu hanya teori tanpa makna. Nilai-nilai tersebut sangat bisa diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menutup khotbahnya, Xs. BST berpesan kepada seluruh Daoqin (umat) yang hadir untuk senantiasa rajin mendalami ajaran agama Khonghucu yang mulia.
“Jangan sampai kita bermental seperti pengemis yang memegang bokor emas,”. Punya sesuatu yang sangat berharga tapi malah masih meminta-minta,” pungkasnya. **
