KI-KA: Prof. Idris Gautama, Kenneth Suhadi Purnama, Dr. Mujiyanto, Y.M. Bhikkhu Dhammavuddho Thera, Dr. Li. Edi Ramawijaya Putra, Willy Wiyatno, Karuna Murdaya, Prajna Murdaya, dan Eric Fernardo usai prosesi penandatanganan MoU.
JAKARTA (LB)—DPP KCBI (Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia) menyelenggarakan kegiatan Anjangsana (Silaturahmi) yang dirangkaikan dengan MoU Signing Ceremony antara KCBI, ADBI (Asosiasi Doktor Buddhis Indonesia), dan ADABI (Asosiasi Dosen Agama Buddha Indonesia) di Hall Lantai 2, Gedung 1, Jalan Cikini Raya No. 69, Jakarta Pusat.
Kegiatan yang dihadiri para anggota KCBI, tokoh agama, akademisi, dan cendekiawan Buddhis ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia Buddhis yang unggul, berintegritas, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Acara diawali dengan sesi anjangsana yang bertujuan mempererat hubungan antarlembaga sekaligus memperkuat jejaring intelektual Buddhis di Indonesia. Penandatanganan nota kesepahaman antara KCBI, ADBI, dan ADABI menjadi simbol komitmen bersama dalam mendorong program-program pendidikan, pengembangan kepemimpinan, literasi digital, serta penguatan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Ketua Umum DPP KCBI Y.M. Bhikkhu Dhammavuddho Thera (Victor Jaya Kusuma, S.Kom., M.M., BKP), dalam sambutannya menegaskan bahwa kerja sama lintas organisasi merupakan langkah penting untuk menjawab tantangan masa depan.

“KCBI meyakini bahwa kemajuan umat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan spiritual, tetapi juga oleh kualitas intelektual, moralitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Melalui kolaborasi ini, kita membangun fondasi yang kuat agar nilai-nilai Dharma dapat terus relevan dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.
Ketua Umum ADABI Dr. Mujiyanto, S.Ag., M.Pd menyampaikan bahwa sinergi antarorganisasi Buddhis perlu diarahkan pada penguatan pendidikan karakter dan pembangunan sumber daya manusia yang berlandaskan etika.
Menurutnya, tantangan global saat ini menuntut lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, integritas moral, dan kemampuan berpikir kritis. “Nilai-nilai Dharma harus menjadi landasan dalam membangun karakter generasi penerus agar mampu menghadapi perubahan dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab,” tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Ketua Umum ADBI Dr. Li. Edi Ramawijaya Putra, M.Pd, yang menilai bahwa penguatan ekosistem intelektual Buddhis perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi yang terstruktur. Ia menekankan pentingnya membangun budaya belajar sepanjang hayat, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud nyata implementasi Dharma dalam dunia pendidikan.


“Kolaborasi yang dibangun hari ini bukan hanya untuk kepentingan organisasi, melainkan investasi jangka panjang dalam menciptakan masyarakat yang berpengetahuan, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama,” ungkapnya.
Pada sesi utama, peserta mendapatkan pemaparan dari Ketua Dewan Pakar DPP KCBI Prof. Idris Gautama So, S.E., S.Kom., M.M., M.B.A., Ph.D dengan tema “Dharma sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan.”
Dalam paparannya, Prof. Idris menjelaskan bahwa Dharma tidak hanya dipahami sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai sumber nilai yang mampu membentuk karakter, etika kepemimpinan, dan pola pengambilan keputusan yang bijaksana.
“Di tengah perkembangan teknologi dan kompleksitas kehidupan modern, Dharma memberikan kompas moral yang membantu manusia menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kebijaksanaan dalam bertindak,” jelasnya.

Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, KCBI berharap dapat memperkuat peran cendekiawan Buddhis sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan gagasan-gagasan konstruktif bagi kemajuan umat dan bangsa.
Semangat kolaborasi yang terbangun melalui anjangsana dan penandatanganan nota kesepahaman ini diharapkan menjadi langkah awal bagi lahirnya berbagai program strategis yang memberikan dampak nyata bagi pengembangan pendidikan, moralitas, dan peradaban Buddhis Indonesia di masa mendatang.
Usai penandatanganan MoU, para pimpinan organisasi dan pengurus melakukan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen untuk memperkuat sinergi antarorganisasi Buddhis.

Dalam sesi tersebut hadir antara lain Ketua Dewan Pakar DPP KCBI Prof. Idris Gautama So, S.E., S.Kom., M.M., M.B.A., Ph.D., Bendahara Umum DPP KCBI Kenneth Suhadi Purnama, M.M., Ketum ADABI Dr. Mujiyanto, S.Ag., M.Pd., Ketum DPP KCBI Y.M. Bhikkhu Dhammavuddho Thera (Victor Jaya Kusuma, S.Kom., M.M., BKP), Ketum ADBI Dr. Li. Edi Ramawijaya Putra, M.Pd., Sekjen DPP KCBI Willy Wiyatno, Ph.D., Wakil Ketum DPP KCBI Karuna Murdaya, B.Sc., M.C.P., Ketua Dewan Penyantun DPP KCBI Prajna Murdaya, B.S., M.S. serta Ketua Harian DPP KCBI Eric Fernardo, S.I.P., M.Si.
Kehadiran para tokoh tersebut mencerminkan kuatnya komitmen bersama dalam membangun kolaborasi yang berkelanjutan guna memperkuat peran intelektual Buddhis dalam bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, pengabdian masyarakat, serta pembangunan karakter bangsa yang berlandaskan nilai-nilai Dharma. **
