Dua Emiten Lakukan IPO di Lantai Bursa

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengantarkan dua perusahaan melangsungkan pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) di pasar modal Indonesia, dengan total dana terhimpun dari kedua perusahaan itu senilai Rp300,79 miliar.

Kedua perusahaan itu, yakni PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT) yang menghimpun dana senilai Rp200,10 miliar dan PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) yang menghimpun dana senilai Rp100,69 miliar.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna di Main Hall, BEI, Jakarta, Selasa (8/7) menyampaikan tiga pesan kepada kedua perusahaan tercatat baru, pertama earnings investor trust yaitu untuk menggunakan dana hasil IPO secara transparan sesuai prospektus.

Kedua, leading with integrity yaitu perusahaan wajib dikelola secara transparan, profesional dan akuntabel, dan ketiga, driving growth for all yaitu berkontribusi untuk kesejahteraan masyarakat dan perekonomian Indonesia.

PSAT menawarkan sebanyak 222,35 juta saham atau setara 15 persen dari modal ditempatkan setelah IPO dengan harga Rp900 per saham, sehingga menghimpun dana senilai Rp200,1 miliar.

PSAT akan menggunakan sebagian besar dana hasil IPO sekitar Rp175 miliar untuk anak usaha PT Pancaran Karya Shipping (PKS) demi pembelian dua unit kapal bulk carrier guna memperkuat armada dalam mendukung proyek-proyek strategis perusahaan. “Sisanya akan dialokasikan sebagai modal kerja untuk mendukung operasional kapal,” ujar Direktur Utama PSAT Susanto.

PSAT memiliki prospek usaha yang positif seiring meningkatnya permintaan batubara di dalam negeri, terutama untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Sementara itu, ASPR menerbitkan 812 juta saham baru dengan harga penawaran sebesar Rp124 per saham, sehingga dana terhimpun senilai Rp100,69 miliar, atau mewakili 29,94 persen dari modal disetor penuh setelah IPO.

ASPR akan menggunakan dana hasil IPO untuk dua fokus utama, sekitar Rp46,6 miliar untuk pembelian mesin-mesin baru, guna mendukung segmen makanan, minuman, kosmetik, farmasi, hingga kimia.

“Sisanya akan digunakan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku seperti Polyethylene Terephthalate (PET) dan (Polypropylene) PP, serta biaya operasional pendukung ekspansi kapasitas,” ujar Direktur Utama ASPR Ricky Winoto.

Dengan penambahan mesin itu, ASPR menargetkan peningkatan kapasitas produksi secara signifikan dan efisiensi dalam memenuhi permintaan pasar nasional, khususnya di Pulau Jawa yang menjadi pusat distribusi utama.

ASPR telah berkiprah 30 tahun di industri kemasan plastik, dengan memproduksi berbagai jenis rigid packaging seperti botol, toples, kemasan cat, hingga kemasan untuk sektor farmasi, kosmetik, dan peternakan.*** 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *