Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Iman Rachman.
JAKARTA – Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyampaikan bahwa volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih disebabkan oleh berbagai faktor dari tingkat global.
Menurutnya, kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) terhadap negara mitra dagangnya telah menyebabkan dampak negatif ke berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Kita lihat penurunan indeks sejak minggu lalu, wajar beberapa isu global terjadi, beberapa hal yang terjadi saat ini mereka (investor) wait and see. Kebijakan Donald Trump berdampak cukup signifikan,” ujar Iman di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (18/3).
Iman menjelaskan, volatilitas IHSG lebih disebabkan oleh berbagai akumulasi sentimen, tidak hanya berasal dari tingkat domestik. “Penurunan IHSG akumulasi dari berbagai hal, tidak hanya bicara domestik, bicara fundamental perusahaan bagus, laporan keuangan tahun 2023 lebih baik dari 2024,” ujar Iman.
Dalam kesempatan ini, Iman ditemani Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif OJK Inarno Djajadi, Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik dan jajaran direksi BEI lainnya menerima kunjungan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).
BEI sempat melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan pada pukul 11:19:31 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).
Pembekuan perdagangan dipicu oleh penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai lebih dari 5 persen. Pada penutupan perdagangan sesi I, Selasa (18/3), IHSG tercatat ditutup melemah 395,87 poin atau 6,12 persen ke posisi 6.076,08. Sementara itu, indeks LQ45 tercatat turun 38,27 poin atau 5,25 persen ke posisi 691,08.
Pada sesi perdagangan Selasa sore, IHSG ditutup melemah 248,56 poin atau 3,84 persen ke posisi 6.223,39. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 20,34 poin atau 2,79 persen ke posisi 709,01.
“IHSG tidak berdaya dan terkena trading halt yang kemungkinan dipengaruhi sikap pelaku pasar yang merespons kekhawatiran kondisi ekonomi dalam negeri,” ujar Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus atau Nico dalam kajiannya di Jakarta, dikutip Antara.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebelas atau semua sektor melemah yaitu sektor teknologi turun paling dalam minus sebesar 10,13 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor energi yang masing- masing turun sebesar 6,27 persen dan 3,42 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu XISB, FMII, FWCT, ANJT dan MINE. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni DCII, FORU, LIVE, TPIA dan UANG.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.536.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 28,18 miliar lembar saham senilai Rp18,97 triliun. Sebanyak 126 saham naik,584 saham menurun, dan 247 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia antara lain Indeks Nikkei menguat 448,90 poin atau 1,20 persen ke 37.845,42, indeks Shanghai menguat 3,63 poin atau 0,11 persen ke 3.429,76, indeks Kuala Lumpur menguat 15,66 persen atau 1,04 poin ke posisi 1,527,81, dan indeks Straits Times menguat 31,60 poin atau 0,82 persen ke 3.890,96.***
