Arsip Foto – Petugas PAM Jaya berjalan di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran, Kalimalang, Jakarta.
JAKARTA (LB)- Usaha rumah makan di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, mencemaskan operasionalnya setelah PAM Jaya mengumumkan potensi gangguan air pada 17-22 Juli 2026.
Akmal, salah satu pemilik warung makan di Cengkareng Timur mengatakan gangguan tersebut akan mengganggu operasional usahanya yang membutuhkan banyak air bersih.
“Biasanya, sehari pakai air itu emang banyak karena kan buat di tempat makan, ya, nyuci piring, gelas, sama panci-panci itu banyak butuh airnya. Pusing juga kalau misalnya mati, apalagi seminggu matinya,” ujar Akmal saat dihubungi di Jakarta, Kamis (16/7) malam.
Menurut dia, menampung air dalam jumlah banyak tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional warungnya, terlebih jika gangguan itu berlangsung sampai enam hari.
“Kalau nyetok air, enggak banyak, soalnya cuma punya dua ember. Paling beli air besok kalo emang urgent (darurat) dan mati airnya. Beli yang gerobakan itu, pake jerigen,” kata Akmal.
Oleh karena itu, untuk kebutuhan mandi pribadi, Akmal berencana menumpang di rumah saudaranya yang masih memiliki sumur air tanah.
Ia pun berharap pihak PAM Jaya dapat memberikan solusi yang meringankan warga, seperti menerapkan sistem gilir.
Selain itu, Akmal juga juga berharap ada truk tangki bantuan yang datang apabila air mati dalam waktu yang lama.
“Semoga jangan sampai mati lah, atau jangan lama-lama. Dibikin giliran aja, kalau siang mati, malamnya dinyalain, atau dikasih truk tangki itu yang biru, kayak kalau pas banjir,” tutur Akmal.
Sementara itu, Rafli, warga Cengkareng Barat, menyoroti lamanya estimasi perbaikan pipa yang berlangsung hingga lebih dari lima hari.
Dia menilai durasi tersebut terlalu lama dan tidak wajar, serta akan berdampak buruk bagi warga, mengingat di kawasan Cengkareng kerap terdapat proyek galian.
“Aneh, sih, kalau matinya bisa sampai berhari-hari. Harusnya mati dua apa tiga hari itu maksimal menurut saya. Apalagi kan di Cengkareng banyak galian dari dulu, masa udah banyak galian tetap mati juga airnya. Harus cepat diselesaikan biar cepat nyala lagi,” ungkap Rafli.
Seperti diketahui, pasokan air bersih PAM JAYA di tujuh kelurahan di Jakarta Barat berpotensi mengalami gangguan hingga penghentian sementara mulai Jumat (17/7) hingga Rabu (22/7).
Gangguan layanan itu diperkirakan berdampak terhadap sekitar 55.272 pelanggan.
Direktur Operasional PAM JAYA, Syahrul Hasan mengatakan gangguan pasokan itu terjadi karena adanya pekerjaan perawatan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Hutan Kota yang dikelola PT Jakarta Utilitas Propertindo (JUP).
“Selama proses perawatan berlangsung, pasokan air yang dialirkan dari IPA Hutan Kota menuju jaringan distribusi PAM JAYA akan mengalami penyesuaian hingga Rabu 22 Juli 2026,” ujar Syahrul dalam keterangan resminya, Rabu (15/7). Terdapat tujuh kelurahan di Jakarta Barat yang berpotensi terdampak penurunan tekanan hingga penghentian sementara aliran air, yakni: 1. Cengkareng Barat. 2. Cengkareng Timur. 3. Kapuk Muara. 4. Kamal Muara. 5. Kamal. 6. Pegadungan. 7. Tegal Alur. *
